Kepemimpinan “Insinyur” Jokowi

liputan6.com

liputan6.com

Tulisan ini sudah terbit di kompasiana Popularitas gubernur Jokowi saat ini sangat menguat. Kekuatannya melebihi pemimpin nasional populer yang sudah ada sekarang. Siapapun melihat Jokowi memiliki persepsi yang hampir sama. Siapapun memberikan nilai positif. Kalaupun ada yang mengkritik Jokowi akan menjadi bumerang bagi pengkritiknya. Sekalipun dikritik, dijelekkan, atau disindir, Jokowi tidak pernah repot menjawab atau membalas. Jokowi percaya diri dengan langkahnya, lebih baik kerja, blusukan, dan solusi nyata. Jelasnya, profil Jokowi membuka mata bangsa ini akan seseorang pemimpin yang berbeda, pemimpin yang seolah-olah diidolakan, dibutuhkan, dan diharapkan.

Tulisan ini ingin melihat sisi-sisi obyektif kepemimpinan Jokowi, dan tentu banyak hal positif yang dapat dipelajari. Tulisan ini bukan untuk kepentingan kelompok tertentu. Dari Wikipedia dinyatakan bahwa Jokowi adalah seorang insinyur kehutanan lulusan UGM. Jokowi kemudian bekerja sebagai orang swasta dalam bidang perkayuan, pengolahan kayu dan mebeler. Profesi ini sudah digeluti sejak kecil, mewarisi bapaknya sebagai tukang kayu. Kesulitan hidup memaksanya berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul. Latar belakang ini perlu didalami karena ikut membentuk karakter, pemikiran, sikap, perilaku Jokowi.

Sebagai seorang insinyur, pasti ia punya kelebihan dalam analisis dan kecermatan pengambilan keputusan. Definisi umum kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau menginspirasi orang lain (yang dipimpin) menuju kebaikan atau memandu kepada tercapainya tujuan organisasi. Intinya adalah pada kekuatan mempengaruhi. Jokowi di dalam banyak kesempatan menyampaikan hal ini. Karenanya, agar pengaruh itu lahir, maka pemimpin harus menunjukkan hal yang istimewa. Katanya: “Saat ini, zaman telah banyak berubah. Masyarakat jenuh dengan sosok pemimpin yang serba eksklusif. Untuk itu, pemimpin harus bisa bergaul secara horizontal, menyentuh rakyat dari akar rumput terbawah.

Berbagai konsep kepemimpinan saat ini, baik itu teori (klasik) trait, perilaku atau kontingensi, memang kurang mengena untuk menganalisis kepemimpinan Jokowi. Teori kepemimpinan transformasi juga kurang relevan, apalagi teori kepemimpinan transaksional. Namun konsep kepemimpinan entrepreneur (entrepreneurial leadership) agaknya yang mendekati. Mengapa demikian, karena profil dan kinerja Jokowi memang bukan seperti orang kantoran, atau tipe birokrat. Kinerja Jokowi lebih taktis, fokus dan substansi, dan berorientasi kepada solusi dan nilai tambah. Hal ini adalah tipe pekerja swasta, koordinasi di lapangan, analisis di tempat, eksekusi langsung, kerja dan kerja. Ia memang perlu turun langsung untuk mengambil keputusan. Ia juga ingin keputusannya terkendali dalam jangkauannya, sekaligus memastikan berjalan efektif dan efisien. Ini adalah wujud totalitas tanggungjawab sebagai seorang pemimpin.

Tentu Jokowi tidak asal eksekusi di lapangan, tetapi sudah didahului dengan analisis akademis yang cermat. Dalam analisis ini ia membutuhkan kemampuan expertise dari anak buahnya. Untuk ini, ia nampaknya mengandalkan koordinasi di bawah wakil gubernur. Kunjungan ke lapangan hanya untuk klarifikasi dan verifikasi. Ini adalah tipe kinerja seorang insinyur, yang memiliki kemampuan analisis dan kompetensi spesifikasi teknis sangat kuat. Lapangan adalah nafas dan kehidupannya. Di lapangan ia mengembangkan potensi kepemimpinan, melalui aksi nyata solusi. Menganalisis kepemimpinan Jokowi perlu dilengkapi dengan karakter pribadinya.

  1. Simpel dan efisien. Tampilan Jokowi saat blusukan menunjukkan betapa ia seorang yang efisien. Dalam blusukan, ia berpakaian sipil harian (kemeja panjang putih, dengan lengan dilipat), ditemani hanya beberapa orang, dan relatif jarang dikawal (tanpa protokoler resmi). Ia tidak suka dikawal voorider dengan suara sirine. Suatu kali, petugas voorider orang baru dan membunyikan sirine, kontan Jokowi minta driver berbelok arah melepaskan dari pengawalan. Sikap Jokowi ini benar-benar simpel, tidak merepotkan dan efisien dalam biaya. Ia ingin tampil sederhana agar bisa mendekati rakyat, memahami permasalahan rakyat, dan memberikan kepercayaan untuk lahirnya solusi. Pernah ada pengamat yang mengkritik biaya blusukannya, namun segera terpatahkan dan lenyap beritanya.
  2. Substansi. Popularitasnya yang tinggi menggoda banyak pihak, termasuk pers, mengkaitkannya dengan pencapresan tahun 2014. Apa jawab Jokowi: “Tidak mikir, tidak mikir, tidak mikir. Urusan saya adalah membenahi Tanah Abang, Metromini, waduk Pluit, bukan yang lain. Ini sudah sangat berat”. Jawaban itu sangat substantif, jujur dan nyata. Suatu jawaban yang juga kokoh dan simpel, dan tidak bersayap. Ia jujur mengakui ruwetnya permasalahan Jakarta. Pejabat lain bila ditanya pencapresan umumnya menjawab diplomatis: “Bila rakyat menghendaki, .. sebagai warga negara tentu saya tidak bisa menolak”. Jawaban yang tegas dan jelas itu mencerminkan sikap dan keteguhannya dalam memahami sesuatu dan melangkah. Sikap pemimpin seperti ini membuat rakyat atau anak buah merasa pasti, nyaman dan aman. Jajaran anak buahnya akan ikut tegas mematuhi pemimpinnya, dan tidak mudah dibawa ke arah kepentingan tertentu.
  3. Muka tanpa polesan makeup. Penulis meyakini Jokowi anti dengan makeup wajah. Logika ini sejalan dengan pikirannya yang lebih menyukai hal yang simpel. Tampilan ini memperlihatkan ia ingin apa adanya, ia lebih mementingkan kerja dan kinerja dibanding sekedar pencitraan. Pembaca bisa melihat saat blusukan di tengah terik matahari, ia beberapa kali mengusap keringat. Keletihan wajah Jokowi itu adalah suatu bentuk tanggungjawab seorang pemimpin, benar-benar alamiah. Wajah berkeringat itu sebagaimana dimiliki oleh wajah rakyat secara keseluruhan. Ia memang letih karena bekerja keras dan sungguh-sungguh di lapangan, bukan sekedar memerintah atau pencitraan.
  4. Rendah hati dan penyabar. Jokowi memperlihatkan seorang yang rendah hati. Ia tidak pernah menunjukkan kelebihan atau keberhasilan, sebaliknya ia lebih suka menyatakan berusaha, bekerja, blusukan. “Biarlah rakyat yang menilai dan merasakan”, katanya. Meskipun popularitasnya naik, ia tetap biasa saja dan mengomentari emangnya gue pikirin. Ia biasa dikritik, diejek, atau direndahkan, ia pun menerima sebagai bahan evaluasi. Ia pun menerima disebut wong ndeso atau anekdot lain. Ia tetap biasa saja, tidak menunjukkan nada marah. Ia benar-benar sabar, tahan banting, tidak ada nada perlawanan; menunjukkan akhlak yang baik.

Dari uraian diatas kepemimpinan Jokowi adalah kepemimpinan super. Jokowi tergolong pemimpin berkarakter individu yang kuat, memiliki integritas dan pengendalian diri yang tinggi. Sebagai insinyur dan pengalaman sebagai pengusaha, ia memiliki penguasaan substansi dan analisis pengambilan keputusan yang akurat, cepat dan tuntas. Latar belakang masa kecil yang  terbatas membangun kreativitas dan semangat bekerja keras.

Sumber bacaaan: 1, 2, 3

Lembah Panderman, 28 Sept 2013

Print Friendly

This entry was posted in Governance and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.