Mahasiswa Agroteknologi FP UWG Gali Kearifan Lokal Pertanian di Desa Adat Terunyan Bangli Bali

by | Nov 27, 2025 | Berita, FP | 0 comments

Bangli, Bali — 26–28 November 2025.
Kegiatan outing class Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian UWG yang awalnya dijadwalkan berlangsung di Desa Adat Panglipuran, Bangli, Bali, akhirnya dialihkan ke Desa Adat Terunyan. Pergeseran lokasi ini diputuskan setelah rombongan mengalami antrean panjang hampir 4 jam di Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk, sekaligus mempertimbangkan bahwa karakter ekologis dan budaya Desa Terunyan lebih relevan dengan fokus pembelajaran Agroteknologi. Outing class ini juga berkolaborasi dengan outing class Fakultas Hukum UWG yang lebih dahulu memiliki agenda lapangan di daerah yang sama.

Perjalanan dan Peserta

Rombongan Agroteknologi berangkat pada Selasa, 25 November 2025 sore dari Kampus 2 UWG. Mereka dijadwalkan tiba kembali di Malang pada Sabtu dini hari, 29 November 2025. Keberangkatan resmi dilepas oleh Wakil Dekan FP, Ir. Yuni Agung Nugroho, MP., serta Kaprodi Agroteknologi, Ir. Toto Suharjanto, MP.

Peserta outing class Agroteknologi berjumlah tiga mahasiswa dan dosen pendamping Dr. Ir. Tri Wardhani, MP., masing-masing mewakili unsur penting dalam kelembagaan mahasiswa:

  1. Sania Ramadhani (Semester 5) – Ketua HIMAGRO
  2. Rahma Ayu Wulandini (Semester 3) – Mahasiswa penempuh MK Dasar Perlindungan Tanaman
  3. Laila (Semester 1) – Pengurus HIMAGRO

Sambutan Desa Terunyan & Kunjungan ke Kuburan Terunyan

Setiba di Desa Terunyan, rombongan disambut hangat oleh Carik Desa Terunyan, Pak Lilin. Mahasiswa kemudian diarahkan menuju Kuburan Terunyan, yang dikenal sebagai situs unik tempat jenazah masyarakat tidak dikubur dengan ditanam, tetapi diletakkan di atas tanah dan dilindungi pagar bambu. Keunikan tradisi ini tidak menimbulkan bau menyengat seperti pemakaman pada umumnya, karena adanya keberadaan pohon Tarumenyan yang dipercaya memiliki kemampuan menyerap bau.

Diskusi Pertanian di Balai Desa Terunyan

Usai dari lokasi pemakaman, rombongan melanjutkan kegiatan di Balai Desa Terunyan, bertemu dengan Kepala Desa, Carik, perangkat desa, serta para petani lokal. Mahasiswa Agroteknologi menggali data langsung dari sumber utama mengenai praktik pertanian masyarakat Terunyan.

Dari diskusi tersebut diperoleh informasi bahwa komoditas utama yang dibudidayakan meliputi:

Bawang merah (Allium ascalonicum)

Cabai merah (Capsicum annuum)

Kubis (Brassica oleracea)

Tanaman tersebut ditanam secara monokultur di kebun-kebun yang berada di tepi Danau Batur. Para petani masih mengandalkan insektisida kimia untuk mengendalikan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Mereka mengakui belum menguasai pembuatan insektisida botani, dan berharap pendampingan dari mahasiswa serta dosen Agroteknologi untuk beralih menuju pertanian organik.

Padahal, Desa Terunyan memiliki potensi besar bahan baku pestisida nabati dan pupuk organik, antara lain:

Paitan (Tithonia diversifolia) – dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan pupuk hijau berkualitas tinggi

Pare gengge (Momordica charantia) – bahan pestisida botani

Kaliandra (Calliandra calothyrsus) – tanaman yang dapat menyuburkan tanah

Potensi kekayaan hayati ini menjadi peluang besar bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di wilayah tersebut.

Observasi Lapangan Sambil Menunggu Perahu

Harapan dan Manfaat Kegiatan

Sebelum menuju lokasi kuburan Terunyan dengan perahu, mahasiswa Agroteknologi memanfaatkan waktu dengan menggali informasi tambahan tentang pertanian di desa tersebut melalui wawancara langsung dengan Pak Nengah, salah satu warga dan petani setempat.

Outing class kolaboratif antara Prodi Agroteknologi dan Fakultas Hukum UWG ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik yang kaya bagi mahasiswa, tetapi juga membuka ruang sinergi antara ilmu lingkungan, budaya, dan hukum adat. Kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, Prodi Agroteknologi, UWG, serta masyarakat Desa Terunyan yang mengharapkan pendampingan dalam pengembangan pertanian organik.

Outing class ini menjadi bukti komitmen UWG dalam mengedepankan pembelajaran berbasis lapang, kontekstual, dan bermanfaat langsung bagi masyarakat.(San/PIP)

Berita Terbaru UWG