Malang, Jumat (13/2/2026) – Unit P3AI UWG (Pengembangan, Pembinaan dan Pengamalan Agama Islam) kembali menggelar pengajian rutin bulanan yang sarat ilmu dan inspirasi di , lingkungan YPPI Widya Gama Malang.
Kegiatan ini diikuti seluruh dosen dan karyawan dari lembaga di bawah naungan YPPI Widya Gama Malang, yakni (UWG), , serta SMA/SMK Widya Gama Malang.
Hadir sebagai penceramah untuk kedua kalinya, , M.Kes., DAHK., PA(K), dokter Rumah Sakit Universitas Brawijaya dan mantan dosen Fakultas Kedokteran UB, mengangkat tema yang sangat aktual: “Puasa Dalam Perspektif Sains.”
Puasa dan Fakta Ilmiah: Menghambat Pertumbuhan Kanker





Dalam pemaparannya, dr. Subandi menegaskan bahwa puasa bukan hanya ritual spiritual, tetapi memiliki dampak biologis yang signifikan bagi kesehatan, termasuk dalam pencegahan kanker.
Ia mengungkapkan data empirik bahwa prevalensi kanker mencapai 198 penderita per 100.000 orang, bahkan di Australia angkanya lebih dari 400 per 100.000 orang. Indonesia dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki peluang proteksi alami melalui praktik puasa.
Mengapa Puasa Bisa Menghambat Kanker?
Menurut dr. Subandi:
- Sel kanker sangat bergantung pada gula (glukosa).
Insulin bekerja menurunkan kadar glukosa. Saat puasa, kadar glukosa menurun sehingga sel kanker kehilangan “makanan” utamanya. “Kalau tidak ada gula, tidak ada yang dimakan oleh sel kanker.” - Puasa menstimulasi autophagy
Proses ini adalah mekanisme daur ulang sel di dalam tubuh, termasuk pada organel seperti mitokondria. Autophagy membantu membersihkan sel rusak dan menghambat pertumbuhan sel kanker. - Puasa menurunkan inflamasi (radang)
Sel kanker cenderung tumbuh di lingkungan yang inflamatorik dan asam. Secara ilmiah, puasa terbukti membantu menekan inflamasi. - Puasa meningkatkan imunitas tubuh
Sistem imun yang kuat mampu mengenali dan menghancurkan sel-sel abnormal sebelum berkembang menjadi ganas.
Tumor Ganas Lebih Berbahaya dari Jinak
dr. Subandi menjelaskan bahwa tumor ganas berbeda dengan tumor jinak. Tumor ganas mampu bermetastasis, menyebar cepat ke organ lain, dan sering kali sulit dibendung oleh sistem pertahanan tubuh.
Ia juga menekankan pentingnya pola makan dan gaya hidup sebagai faktor pendukung pencegahan kanker.
Pola Makan: Basa Lebih Bersahabat, Asam Jadi Ancaman
Sel kanker cenderung menyukai lingkungan asam dan gula. Berikut penjelasan yang disampaikan:
Makanan Bersifat Asam (Perlu Dibatasi):
- Daging berlebihan
- Gula dan makanan manis
- Kopi
- Makanan olahan & diawetkan
- Minuman keras & soft drink
- Rokok
Makanan Bersifat Basa (Dianjurkan):
- Apel, lemon, pir
- Ubi merah, kentang
- Terong, lobak, wortel
- Mentimun
- Rumput laut
- Ikan laut (sangat dianjurkan)
Saran bagi penderita kanker:
- Kurangi gula
- Perbanyak puasa sunnah
- Konsumsi makanan bersifat basa
- Hindari makanan pemicu keasaman
Kendali Emosi dan Kesehatan
Menariknya, dr. Subandi juga mengaitkan kesehatan fisik dengan kondisi psikologis.
“Orang yang mampu mengendalikan diri, tidak mudah marah dan emosi, jauh dari penyakit kanker.”
Ia menyebut bahwa perilaku positif berkontribusi besar pada proses penyembuhan, termasuk pada kasus kanker payudara.
Tuntunan Berbuka: Jangan Asal Manis
Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 184, puasa disebut sebagai ibadah yang penuh hikmah. Rasulullah SAW menganjurkan untuk menyegerakan berbuka sebelum shalat Maghrib.
Jenis takjil yang dianjurkan:
- Kurma
- Air zam-zam
Namun, dr. Subandi mengingatkan penderita diabetes untuk menghindari makanan manis berlebihan saat berbuka.
Ia juga menyarankan:
- Makan buah sebelum nasi
- Konsumsi buah saat perut kosong
Sinergi Iman dan Ilmu
Pengajian ini tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga mempertemukan nilai agama dengan bukti ilmiah modern. Tema “Puasa Dalam Perspektif Sains” membuka wawasan bahwa ibadah memiliki dimensi kesehatan yang luar biasa.
Kegiatan Unit P3AI UWG ini kembali menegaskan bahwa lingkungan YPPI Widya Gama Malang tidak hanya membangun kecerdasan akademik, tetapi juga kesehatan jasmani dan ruhani warganya.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Ia adalah disiplin metabolik, penguat imun, pengendali inflamasi, dan—secara ilmiah—berpotensi menjadi tameng terhadap kanker.(San/PIP)





