MALANG — Kota Malang yang selama ini dikenal sebagai Kota Pendidikan dan Budaya mulai kehilangan arah. Maraknya industri hiburan malam dinilai menggeser identitas kota dan mengancam masa depan generasi muda. Isu krusial ini mengemuka dalam Diskusi Publik “Malang Kehilangan Arah? Ketika Kota Pendidikan dan Budaya Tergeser oleh Industri Hiburan Malam” yang digelar Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Malang (UWG) bersama Kreasi Media Institute, bertempat di Auditorium Lantai 4 Kampus 2 UWG Malang.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UWG, Dr. Anwar, S.H., M.Hum., yang menegaskan bahwa kampus tidak boleh diam melihat krisis arah pembangunan Kota Malang.
“Widya Gama terbukti menghadirkan tokoh-tokoh kritis nasional seperti Abraham Samad, Rocky Gerung, Said Didu, hingga Feri Amsari. Ini bagian dari ikhtiar menjaga amanah dan integritas. Diskusi ini penting, dan sangat tidak bertanggung jawab jika kita tidak peduli pada Kota Malang,” tegasnya.
Rektor juga mengungkapkan bahwa forum ini diinisiasi oleh kalangan wartawan yang cemas melihat arah masa depan Kota Malang. Ia berharap diskusi menghasilkan rekomendasi konkret dan terkonsep matang karena peserta yang hadir adalah orang-orang berkompeten dari lintas kampus dan komunitas.
Generasi Muda Paling Terancam
Salah satu pemateri utama, Dr. Zahir Rusyad, S.H., M.Hum., CLA (Dosen FH UWG sekaligus Dosen Pascasarjana Magister Hukum Kesehatan UWG), membeberkan bahwa ekspansi hiburan malam menjadi indikator serius krisis arah pembangunan kota.




Menurutnya, maraknya industri hiburan malam telah menggerus nilai Tribina Cita—identitas Malang sebagai Kota Pendidikan, Kota Wisata, dan Kota Industri berbasis budaya.
“Generasi muda menjadi kelompok paling terdampak dan paling perlu dilindungi. Reaktualisasi Tribina Cita hanya bisa terwujud jika ada sinergi pemerintah, kampus, keluarga, komunitas, pelaku usaha, serta anak muda itu sendiri. Malang masih bisa kembali ke arah yang seharusnya jika kompas kota dikembalikan ke nilai dasarnya,” tegasnya.
Pemateri dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Universitas Brawijaya turut memperkuat diskursus dengan sudut pandang akademik lintas disiplin. Sementara itu, pemateri dari FH UWG, Dr. Purnawan Dwikora Negara, S.H., M.H., berhalangan hadir.
Wartawan Resah, Kampus Bergerak
Diskusi publik ini menjadi sinyal bahwa kegelisahan atas masa depan Kota Malang tidak hanya dirasakan akademisi, tetapi juga insan pers. Kekhawatiran terhadap pergeseran citra Malang dari kota pendidikan dan budaya menuju kota hiburan malam mendorong lahirnya ruang dialog terbuka yang kritis.
Forum ini diharapkan melahirkan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan agar pembangunan Kota Malang tidak melenceng dari jati dirinya.
UWG Malang menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang lahirnya gagasan kritis demi masa depan kota dan generasi muda yang lebih bermartabat. (san/pip)





