Dari Masjid Al Farabi, UWG Malang Serukan Lahirnya Pemimpin Islam Masa Depan yang Berani Mengambil Risiko

by | Oct 2, 2026 | Berita | 0 comments

MALANG — Pengajian Jumat Pagi keluarga besar Yayasan Pendidikan Pengajaran Indonesia (YPPI) Widya Gama Malang di Masjid Al Farabi, Jumat (2/10/2026), menjadi ruang refleksi tentang masa depan kepemimpinan Islam dan bangsa Indonesia.

Pengajian rutin bulanan Universitas Widya Gama (UWG) Malang yang digelar setiap Jumat pertama tersebut menghadirkan Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sebagai penceramah. Nazaruddin diketahui menjabat Rektor UMM periode 2024–2028 dan juga merupakan anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur periode 2022–2027.

Kegiatan dihadiri Rektor UWG Malang beserta jajaran Wakil Rektor, dosen, dan karyawan. Mengangkat tema “Mempersiapkan Pemimpin Islam Masa Depan”, kajian berlangsung mulai pukul 07.45 WIB hingga selesai.

Pemimpin Bukan Sekadar Jabatan, tetapi Keberanian Memikul Risiko

Dalam pemaparannya, Nazaruddin mengajak peserta melihat kembali perjalanan kepemimpinan Indonesia, terutama bagaimana para pemimpin pada masa perjuangan menghadapi situasi sulit dan mengambil keputusan besar untuk membawa bangsa menuju kemerdekaan serta pembangunan.

Ia kemudian mengulas secara singkat dinamika pergantian kepemimpinan nasional pada 1998, ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan Wakil Presiden B.J. Habibie kemudian mengucapkan sumpah sebagai Presiden Republik Indonesia. Pemerintahan Habibie berlangsung sekitar 13 bulan sebelum kemudian digantikan Abdurrahman Wahid.

Dari perjalanan tersebut, Nazaruddin menekankan satu karakter penting yang menurutnya harus dimiliki seorang pemimpin:

“Kalau tidak berani ambil risiko, jangan jadi pemimpin!”

Menurutnya, kepemimpinan selalu berhadapan dengan pilihan, tekanan, ketidakpastian, sekaligus konsekuensi dari setiap keputusan.

“Menjadi pemimpin harus mau dengan risiko,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Ia menggambarkan perjalanan politik dan kepemimpinan nasional sebagai sebuah “orkestra politik”, ketika berbagai kepentingan, kekuatan, dan proses harus bertemu untuk melahirkan kepemimpinan.

Namun, bagi Nazaruddin, persoalan kepemimpinan tidak berhenti pada perebutan atau pergantian jabatan. Hal yang jauh lebih fundamental adalah bagaimana menyiapkan manusia yang memiliki kapasitas untuk memimpin.

Kaderisasi Menjadi Kunci

Nazaruddin menyoroti pentingnya ekosistem pengkaderan yang dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

Dalam konteks Muhammadiyah, menurutnya, proses melahirkan pemimpin tidak berlangsung secara instan. Ada tahapan organisasi dan proses panjang yang harus dilalui.

Ia memberikan gambaran dari pengalamannya memimpin UMM.

“Saya menjadi Rektor di UMM, saya melaksanakan apa yang ditugaskan dengan baik.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan, dalam perspektif yang ia sampaikan, bukan sekadar kesempatan untuk memperoleh posisi, melainkan amanah untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab.

Karena itu, ekosistem pengkaderan seorang pemimpin harus dilakukan dengan baik.

Pertanyaan pentingnya adalah, seberapa jauh generasi hari ini mampu menangkap peluang dan tantangan hari esok untuk dipersiapkan menjadi kekuatan masa depan.

Kepemimpinan Islam Berbasis Nilai Ketuhanan

Memasuki perspektif keislaman, Nazaruddin mengaitkan kepemimpinan dengan kekuatan ilahiyah, antara lain melalui QS Ali Imran ayat 110, yang berbicara tentang umat yang menyeru kepada kebajikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.

Dalam kajian tersebut, ia memandang kepemimpinan bukan semata-mata persoalan kekuasaan manusia.

“Kepemimpinan itu menurut saya adalah Ketuhanan, memanifestasikan wajah Tuhan di bumi,” demikian gagasan yang disampaikannya.

Maknanya, pemimpin dituntut mampu menempatkan nilai ketuhanan, amanah, keadilan, dan kemaslahatan sebagai dasar dalam menjalankan tanggung jawab.

Seorang pemimpin juga harus mampu menempatkan dirinya sesuai kebutuhan masyarakat: siap berada di depan ketika harus memberikan arah, berada di tengah ketika harus bersama masyarakat, dan berada di belakang ketika harus memberikan dukungan serta kekuatan.

Dari Politik Kekuasaan Menuju Kepemimpinan Berintegritas

Nazaruddin juga mengangkat dinamika kepemimpinan Indonesia dan pergantian kekuasaan politik sebagai bahan refleksi.

Ia menyinggung bagaimana kepemimpinan nasional dalam praktik politik modern tidak dapat dilepaskan dari peran partai politik dan koalisi pendukung. Pergantian kepemimpinan nasional, termasuk momentum Pemilu 2024, menunjukkan bahwa proses politik melibatkan berbagai kepentingan dan strategi.

Catatan tersebut disampaikan bukan semata-mata untuk melihat politik dari sisi kekuasaan, melainkan sebagai pengingat bahwa menyiapkan pemimpin membutuhkan proses jauh sebelum seseorang berada di puncak kekuasaan.

Dengan demikian, kaderisasi menjadi pekerjaan strategis. Pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki popularitas atau kemampuan memenangkan kontestasi, tetapi harus memiliki fondasi moral dan kemampuan mengelola amanah.

Enam Fondasi Pemimpin Islam Masa Depan

Dari gagasan yang mengemuka dalam kajian tersebut, mempersiapkan pemimpin Islam masa depan setidaknya membutuhkan enam fondasi utama:

Pertama, penguatan akidah dan spiritualitas.
Keimanan, ketakwaan, serta pemahaman terhadap ajaran Islam menjadi fondasi dalam menentukan arah dan mengambil keputusan.

Kedua, pembentukan akhlak dan integritas.
Kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan sikap tawadu menjadi karakter penting agar perkataan sejalan dengan perbuatan.

Ketiga, visi yang jelas.
Calon pemimpin harus memahami tujuan hidup sebagai hamba Allah sekaligus memiliki visi strategis bagi kemajuan umat dan bangsa.

Keempat, penguatan kapasitas intelektual dan keilmuan.
Pemimpin masa depan perlu menguasai ilmu agama sekaligus memahami perkembangan sosial, ekonomi, politik, teknologi, dan berbagai persoalan masyarakat.

Kelima, kemampuan kepemimpinan dan manajemen modern.
Komunikasi, empati, pengambilan keputusan, kemampuan membaca perubahan, serta pengelolaan organisasi secara kolaboratif menjadi keterampilan yang semakin penting.

Keenam, kaderisasi dan regenerasi yang terstruktur.
Organisasi Islam dan lembaga pendidikan perlu menjadi ruang transfer nilai, pengalaman, pengetahuan, dan kepemimpinan secara berkelanjutan.

Masjid Al Farabi dan Pesan untuk Generasi Mendatang

Pengajian Jumat Pagi di Masjid Al Farabi akhirnya tidak hanya menjadi agenda rutin sivitas akademika UWG Malang. Kajian tersebut berkembang menjadi refleksi mengenai pertanyaan yang lebih besar: siapa yang akan memimpin umat dan bangsa pada masa depan, serta bagaimana mereka dipersiapkan mulai hari ini?

Pesan Nazaruddin mengarah pada satu gagasan utama: kepemimpinan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui pendidikan, keteladanan, pengalaman, keberanian mengambil tanggung jawab, dan proses kaderisasi yang panjang.

Di tengah perubahan sosial, teknologi, ekonomi, dan politik yang semakin cepat, generasi muda Islam dituntut tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi memiliki kapasitas untuk mengambil peran.

Sebab, masa depan tidak cukup hanya ditunggu.

Masa depan harus dipersiapkan—dan pemimpin masa depan harus mulai dibentuk sejak sekarang.(Humas)

Berita Terbaru UWG