MALANG — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Widya Gama (UWG) Malang di tingkat nasional. Tim Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) UWG Malang berhasil meraih podium Juara 3 dalam ajang nasional PARADIGMA 2026 (Parade Ide dan Gagasan Mahasiswa) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang (UM).
Tim UWG Malang yang berlaga dalam kompetisi tersebut terdiri atas Roul Luis Fernanda dan Moza Rozida Al Cholifi, dengan Yuni Agung Nugroho, SP., MP. sebagai dosen pembimbing.
Kompetisi berlangsung secara daring melalui Zoom dan mempertemukan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi. Pada kategori Karya Tulis Ilmiah, proses seleksi mengerucut hingga tahap final yang diikuti tiga finalis dari Universitas Widya Gama, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Jember.
Dokumen resmi panitia Universitas Negeri Malang menyatakan bahwa peserta kategori Karya Tulis Ilmiah dinyatakan lolos ke tahap final PARADIGMA 2026. Ajang tersebut mengusung tema besar “Generasi Muda sebagai Katalis Transformasi: Mewujudkan Inovasi, Integritas, dan Kolaborasi Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan.”
Angkat Isu yang Semakin Relevan di Era AI
Dalam kompetisi tersebut, tim UWG mengangkat isu literasi digital dalam penanggulangan hoaks dan disinformasi, dengan karya berjudul:
“DIGIVERIFY: Model Penguatan Literasi Digital Generasi Muda untuk Menangkal Penyebaran Hoaks dan Disinformasi di Era Generative AI dalam Bersosial Media.”
Gagasan tersebut berangkat dari semakin cepatnya arus informasi di media sosial serta munculnya tantangan baru akibat perkembangan Generative AI. Teknologi AI kini memungkinkan pembuatan teks, gambar, audio, hingga konten visual yang semakin sulit dibedakan dari informasi autentik.
Dalam karya ilmiahnya, tim UWG menilai bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu diikuti kemampuan memverifikasi kebenaran informasi. Kondisi tersebut membuat generasi muda berpotensi menjadi konsumen sekaligus penyebar informasi yang belum terverifikasi.
Melalui DIGIVERIFY, tim menawarkan model penguatan literasi digital yang tidak sekadar memberikan pengetahuan mengenai bahaya hoaks, tetapi mendorong generasi muda untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengevaluasi bukti, berpikir kritis, serta bertanggung jawab sebelum menyebarkan informasi.
Menggunakan Pendekatan Theory of Planned Behavior
Salah satu kekuatan gagasan DIGIVERIFY adalah penggunaan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai pendekatan dalam memahami perilaku generasi muda ketika menerima dan menyebarkan informasi.
Pendekatan tersebut melihat tiga faktor utama, yakni attitude atau sikap, subjective norm atau norma subjektif, dan perceived behavioral control atau persepsi kontrol perilaku. Ketiganya diarahkan untuk membentuk niat yang kemudian mendorong perilaku verifikasi informasi.
Model tersebut diharapkan dapat mengubah kebiasaan generasi muda dari sekadar cepat menerima informasi menjadi lebih kritis dalam memastikan validitas sebuah informasi sebelum mempercayai maupun membagikannya.
Temuan Penelitian Perkuat Urgensi DIGIVERIFY
Gagasan yang dibawa tim UWG juga diperkuat dengan hasil penelitian terhadap 26 responden. Hasil penelitian menunjukkan tingginya intensitas penggunaan media komunikasi digital di kalangan responden. Sebanyak 88,46 persen responden menggunakan media komunikasi minimal satu jam setiap hari.
Dalam pengukuran empat dimensi literasi digital, indeks literasi digital dan verifikasi mencapai 82 persen, kesadaran terhadap hoaks dan Generative AI mencapai 83 persen, sedangkan perilaku verifikasi dan kebutuhan edukasi mencapai 84 persen dan masuk kategori sangat tinggi.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan celah yang perlu diperkuat. Kemampuan responden dalam mengenali ciri informasi yang perlu diverifikasi hanya mencapai 50 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk melakukan verifikasi sudah cukup tinggi, tetapi kemampuan mengenali informasi mencurigakan dan melakukan verifikasi secara sistematis masih membutuhkan penguatan.
Temuan kualitatif semakin menegaskan kebutuhan tersebut. Responden mengaku mengalami kesulitan membedakan informasi hoaks yang telah dimodifikasi menggunakan AI dan membutuhkan edukasi yang sederhana, cepat, serta praktis.
Mahasiswa Jadi Garda Depan Melawan Disinformasi
Keberhasilan meraih Juara 3 nasional PARADIGMA 2026 menjadi capaian penting bagi tim LKTI UWG Malang sekaligus menunjukkan bahwa isu literasi digital semakin strategis di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Melalui DIGIVERIFY, tim tidak hanya menawarkan gagasan akademik, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan baru di ruang digital: berhenti sejenak, memeriksa, membandingkan, kemudian membagikan informasi.
Di tengah derasnya arus konten berbasis Generative AI, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas informasi di ruang digital.
Capaian tim UWG Malang di PARADIGMA 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan aktual masyarakat melalui inovasi dan karya ilmiah yang relevan dengan perkembangan zaman.(Humas)





