Pengajian rutin bulanan Unit P3AI UWG Malang menghadirkan Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag., CHARM, CMRP. yang mengajak sivitas akademika memperkuat persaudaraan, mengedepankan persatuan, dan bekerja tanpa kepentingan pribadi.
MALANG, 11 September 2026 — Semangat memperkuat persaudaraan dan persatuan umat kembali menggema di lingkungan Universitas Widya Gama Malang (UWG Malang). Jumat pagi, Unit P3AI UWG Malang kembali menyelenggarakan pengajian rutin bulanan yang diikuti para dosen, karyawan, serta guru dari lembaga-lembaga di bawah naungan YPPI Widya Gama Malang.
Kegiatan tersebut dihadiri keluarga besar UWG Malang, STIKES Widya Gama Husada Malang, serta SMA/SMK Widya Gama. Pengajian menghadirkan Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag., CHARM, CMRP., Dosen UIN Malang, sebagai penceramah.
Mengangkat tema “Merajut Ukhuwah Islamiyah sebagai Power Melestarikan Islam di Muka Bumi”, pengajian tidak sekadar menjadi forum keagamaan, tetapi juga menjadi momentum refleksi tentang pentingnya membangun kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat dan institusi pendidikan.
Dari Kisah Nabi Adam hingga Kepemimpinan Rasulullah
Dalam tausiyahnya, Dr. Isroqunnajah mengawali kajian dengan mengangkat kisah Nabi Adam AS dan perjalanan taubatnya setelah melakukan kekhilafan.
Kisah tersebut menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi godaan. Menurutnya, manusia tidak akan pernah sepenuhnya mampu menghadapi godaan setan tanpa pertolongan Allah SWT.
Ia juga mengisahkan bagaimana Nabi Adam AS memohon ampun kepada Allah SWT dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW. Kisah tersebut menggambarkan kedudukan Rasulullah SAW sekaligus mengingatkan manusia tentang pentingnya kembali kepada Allah SWT melalui taubat dan ketundukan.
Pertemuan Nabi Adam AS dan Hawa di kawasan Arafah, yang dalam tradisi Islam dikaitkan dengan Jabal Rahmah, kemudian menjadi refleksi mengenai pertemuan, persatuan, dan rahmat Allah SWT.






“Manusia tidak akan pernah mampu dari godaan syaitan, kecuali ada campur tangan Allah,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
23 Tahun Rasulullah Mengubah Peradaban
Dr. Isroqunnajah kemudian membawa jamaah menelusuri sejarah perjuangan Rasulullah SAW.
Menurutnya, salah satu pelajaran terbesar dari sejarah Islam adalah bagaimana Rasulullah SAW mampu membawa perubahan luar biasa di tengah masyarakat Arab yang saat itu berada dalam lingkungan yang keras dan penuh tantangan.
Selama kurang lebih 23 tahun masa kenabian, Rasulullah SAW berhasil mengubah keyakinan masyarakat dari politeisme menuju tauhid, yaitu keyakinan kepada satu Tuhan, Allah SWT.
Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada aspek akidah, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga pembangunan peradaban.
Kekuatan utama Rasulullah SAW, menurut kajian tersebut, bukan semata-mata pada kepemimpinan formal, melainkan pada kemampuan membangun kepercayaan, keteladanan, persatuan, dan mendelegasikan amanah kepada orang-orang yang dipercaya.
Jejak penyebaran Islam yang dilakukan para sahabat menjadi bukti luasnya pengaruh dakwah Rasulullah SAW. Semangat tersebut kemudian diteruskan generasi demi generasi hingga Islam berkembang ke berbagai belahan dunia.
Rasulullah SAW dan Ekonomi Berbasis Keadilan
Salah satu bagian penting dalam kajian juga menyoroti kiprah Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat Madinah.
Rasulullah SAW bukan hanya seorang pemimpin umat dan negarawan, tetapi juga telah dikenal sebagai seorang pedagang sejak usia muda. Kejujuran, integritas, dan sifat dapat dipercaya membuat beliau mendapatkan gelar Al-Amin.
Ketika memimpin masyarakat Madinah, Rasulullah SAW turut meletakkan fondasi ekonomi yang berorientasi pada keadilan, kejujuran, pemberdayaan, dan kepedulian sosial.
Praktik ekonomi yang menindas masyarakat lemah, termasuk riba, mendapatkan perhatian serius dalam sistem yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip Al-Qur’an.
Dari sini, jamaah diajak memahami bahwa Islam bukan hanya berbicara mengenai ibadah individual, tetapi juga menawarkan nilai-nilai yang dapat membangun kehidupan sosial dan ekonomi yang berkeadilan.
Islam Membangun Peradaban, Bukan Sekadar Identitas
Dr. Isroqunnajah juga mengajak seluruh peserta memahami sejarah peradaban Islam secara lebih luas.
Peradaban Islam, katanya, memiliki kontribusi terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, pendidikan hingga perkembangan teknologi.
Pada periode Makkah, misalnya, Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap pembinaan tauhid dan perubahan masyarakat jahiliyah.
Nilai kesetaraan manusia juga menjadi bagian penting dari perubahan sosial yang dibawa Islam.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk tidak sekadar bangga menyandang identitas sebagai Muslim, tetapi juga memahami dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus bangga sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad SAW.”
Ukhuwah Islamiyah Dibangun di Atas Ikatan Iman
Memasuki inti tema kajian, Dr. Isroqunnajah menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak boleh dibangun hanya berdasarkan pertemanan, kesukuan, kepentingan kelompok, maupun hubungan darah.
Fondasi utama persaudaraan dalam Islam adalah iman kepada Allah SWT.
Ikatan tersebut merupakan ikatan suci yang menempatkan kecintaan kepada sesama Muslim dalam kerangka mencari rida Allah SWT.
Tiga pesan penting tentang hakikat ikatan iman:
1. Cinta karena Allah
Mencintai seseorang karena ketaatan dan kedekatannya kepada Allah, bukan semata karena kepentingan duniawi.
2. Benci karena Allah
Menolak kemaksiatan dan kekufuran sebagai bentuk menjaga kesucian akidah, bukan membangun kebencian pribadi kepada manusia.
3. Menguatkan ukhuwah
Persaudaraan Islam harus menjadi kekuatan yang mampu melampaui sekat darah, suku, kelompok maupun latar belakang sosial.
Dalam konteks inilah, konsep mahabbah fillah menjadi sangat penting.
Mahabbah fillah berarti cinta dan kasih sayang yang didasari karena Allah SWT. Hubungan antarmanusia tidak lagi dibangun karena keuntungan duniawi, melainkan karena sama-sama ingin berada dalam jalan kebaikan dan mengharapkan rida Allah.
Berbeda Pendapat Bukan Alasan untuk Berpecah
Salah satu pesan kuat dalam pengajian tersebut adalah pentingnya menyikapi perbedaan secara dewasa.
Dr. Isroqunnajah mengingatkan bahwa perbedaan pendapat telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Karena itu, perbedaan dalam persoalan tertentu tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghilangkan persaudaraan.
Ia mencontohkan keberadaan empat mazhab dalam khazanah Islam yang menunjukkan adanya ruang perbedaan dalam memahami persoalan agama.
Menurutnya, umat Islam harus mampu membedakan antara perbedaan yang bersifat khilafiyah dengan persoalan yang menyangkut prinsip akidah.
Salah satu prinsip yang ditekankan adalah:
“Mengutamakan persatuan sesama Muslim.”
Ia juga menyampaikan sebuah pesan pendidikan yang sarat makna: guru yang baik adalah ketika muridnya menjadi lebih baik daripada gurunya.
Pesan itu menggambarkan pentingnya kerendahan hati, keterbukaan terhadap perkembangan ilmu, serta kesediaan memberikan ruang kepada generasi berikutnya untuk tumbuh dan berkembang.
Al-Qur’an Menjadi Landasan Persatuan
Pesan mengenai ukhuwah tersebut diperkuat dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa persaudaraan bukan sekadar slogan. Ketika terjadi perselisihan, umat Islam justru diperintahkan untuk mengambil peran mendamaikan.
Hal yang sama ditegaskan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103, yang mengingatkan umat agar berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai.
Persatuan, dalam perspektif tersebut, merupakan nikmat Allah SWT yang harus dijaga.
Ibarat Satu Tubuh dan Satu Bangunan
Ukhuwah Islamiyah kemudian digambarkan seperti satu tubuh dan satu bangunan.
Ketika satu bagian tubuh merasakan sakit, bagian lain ikut merasakan. Demikian pula sebuah bangunan yang kokoh tidak mungkin hanya ditopang satu bagian, tetapi membutuhkan kekuatan seluruh komponennya.
Semangat inilah yang harus diterapkan dalam kehidupan umat maupun lingkungan pendidikan.
Penguatan iman dapat dilakukan melalui amal saleh, saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, serta menjaga persatuan.
Dengan demikian, ukhuwah tidak berhenti pada perasaan saling menyayangi, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Pesan Khusus untuk Keluarga Besar YPPI Widya Gama Malang
Menariknya, pesan tentang ukhuwah kemudian diarahkan pada kehidupan kelembagaan.
Di hadapan keluarga besar lembaga pendidikan di bawah YPPI Widya Gama Malang, Dr. Isroqunnajah menekankan pentingnya menyatukan orientasi.
Jika seluruh elemen ingin membesarkan kampus dan lembaga pendidikan, maka kepentingan bersama harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi.
Semangat membangun institusi harus dilakukan dengan satu tujuan: memajukan UWG Malang dan seluruh lembaga di bawah YPPI Widya Gama Malang.
Tidak boleh ada kepentingan pribadi, kelompok, maupun agenda lain yang justru melemahkan kebersamaan.
“Kalau kita ingin membesarkan kampus UWG, tidak ada kepentingan lain kecuali untuk membesarkan kampus.”
Pesan tersebut menjadi penutup yang relevan dengan tema utama pengajian: merajut ukhuwah untuk membangun kekuatan bersama.
Sebab, sebuah lembaga tidak akan menjadi besar hanya karena gedung, program, atau sistem yang dimilikinya. Kekuatan terbesar sebuah institusi terletak pada orang-orang di dalamnya yang mampu bekerja bersama, saling menghormati, saling menguatkan, dan menyingkirkan kepentingan pribadi demi tujuan yang lebih besar.
Pengajian yang Berujung pada Sebuah Pesan Besar
Pengajian rutin bulanan Unit P3AI UWG Malang tersebut akhirnya tidak hanya menjadi forum untuk memperdalam wawasan keislaman.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi moral dan spiritual bagi keluarga besar YPPI Widya Gama Malang.
Dari kisah Nabi Adam AS, keteladanan Rasulullah SAW, perjalanan peradaban Islam, hingga konsep mahabbah fillah dan ukhuwah Islamiyah, seluruhnya bermuara pada satu pesan:
Persatuan harus dibangun karena Allah, dijaga dengan iman, diwujudkan melalui amal saleh, dan dibuktikan melalui kerja nyata.
Bagi keluarga besar UWG Malang dan seluruh lembaga di bawah YPPI Widya Gama Malang, pesan itu menjadi pengingat bahwa membangun institusi adalah tanggung jawab bersama.
Berbeda boleh. Berdiskusi wajib. Saling menghormati harus. Tetapi persatuan dan tujuan bersama tidak boleh dikorbankan.
Dan dari sinilah, ukhuwah Islamiyah bukan hanya menjadi tema pengajian, tetapi menjadi kekuatan untuk melangkah bersama.(Humas)





