Trans Jatim Jangan Sekadar Jadi Bus, Prof Aji Suraji Dorong Revolusi Transportasi: Angkot Harus Jadi Feeder, Pelajar Bisa Bebas Biaya

by | Sep 11, 2026 | Berita, FT | 0 comments

MALANG 11 September 2026, JAWA TIMUR — Masa depan transportasi publik Jawa Timur dinilai tidak cukup hanya dengan menambah armada dan koridor bus. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem transportasi terintegrasi yang mampu mengubah kebiasaan masyarakat dari ketergantungan kendaraan pribadi menuju mobilitas publik yang murah, aman, nyaman, terukur, dan produktif.

Gagasan tersebut mengemuka dalam CafeIN Talks – Webinar Nasional bertajuk “Implementasi Angkutan Umum Bus Trans Jatim dan Manfaat bagi Masyarakat”. Salah satu narasumber utama, Prof. Dr. Ir. Aji Suraji, ST., MSc., IPU., ASEAN Eng., Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik sekaligus Direktur Program Pascasarjana Universitas Widya Gama Malang (UWG), memaparkan bahwa Trans Jatim memiliki potensi strategis menjadi tulang punggung transportasi publik antarwilayah di Jawa Timur.

Dalam paparannya, Prof Aji menempatkan Trans Jatim bukan sekadar sebagai layanan bus antarkota, tetapi sebagai instrumen untuk mengurai kemacetan, meningkatkan keselamatan, menekan biaya mobilitas masyarakat, memperluas akses pendidikan dan pekerjaan, sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.

“Trans Jatim harus dipandang sebagai backbone transportasi publik antarwilayah, bukan sekadar moda perjalanan.”

Dari Kendaraan Pribadi ke “Access-Based Mobility”

Menurut Prof Aji, tantangan terbesar transportasi publik bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi perubahan pola pikir masyarakat.

Masyarakat selama ini masih banyak menganggap sepeda motor sebagai pilihan paling murah dan praktis. Karena itu, transportasi publik harus mampu memberikan pembuktian yang nyata bahwa menggunakan Trans Jatim justru memberikan nilai ekonomi dan kenyamanan yang lebih tinggi.

Materi yang dipaparkan menyebut perubahan tersebut sebagai pergeseran dari “ownership” menuju “access-based mobility”. Masyarakat tidak lagi harus memiliki dan mengemudikan kendaraan sendiri untuk mendapatkan akses mobilitas.

Bahkan, dalam kalkulasi yang dipaparkan, tarif Trans Jatim dengan dukungan subsidi PSO dapat memangkas biaya mobilitas dibandingkan akumulasi BBM, servis, parkir dan biaya terkait kendaraan pribadi.

Pesannya jelas: transportasi umum harus dijual bukan sebagai “alternatif karena tidak punya kendaraan”, tetapi sebagai pilihan cerdas untuk menghemat pengeluaran dan waktu.


Bus Nyaman Saja Tidak Cukup

Prof Aji juga menyoroti bahwa keberhasilan Trans Jatim sangat bergantung pada kualitas pelayanan.

Trans Jatim dirancang dengan prinsip Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang mencakup keselamatan, keamanan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan dan keteraturan. Sistem tersebut diperkuat pembayaran non-tunai, pengaturan headway, GPS dan Fleet Management System, AC, CCTV, sistem informasi penumpang serta pembatasan kapasitas.

Kepastian waktu menjadi faktor penting. Dalam materi Prof Aji, headway ideal harus terukur sehingga masyarakat mengetahui kapan bus datang. Teknologi GPS bahkan memungkinkan posisi bus dipantau secara real time dan informasi estimasi kedatangan diteruskan kepada penumpang melalui aplikasi.

Dengan demikian, slogan transportasi publik tidak boleh berhenti pada “murah”, tetapi harus berkembang menjadi “murah, aman, nyaman dan dapat diprediksi.”


ANGKOT JANGAN DIMATIKAN — UBAH JADI FEEDER

Salah satu gagasan paling menarik dalam paparan Prof Aji adalah masa depan angkutan kota atau angkot.

Di tengah ekspansi Trans Jatim, angkot konvensional menghadapi persoalan serius: sistem setoran, armada yang menua, ngetem, rute yang tumpang tindih dan penurunan jumlah penumpang. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan resistensi sosial karena pengemudi dan pemilik angkot khawatir kehilangan mata pencaharian.

Namun, solusi yang ditawarkan bukan menghilangkan angkot.

“Bukan dimatikan, tetapi ditransformasikan menjadi feeder Trans Jatim.”

Konsepnya, rute angkot diarahkan ke jalan sekunder, permukiman, pasar dan pusat aktivitas lokal. Angkot kemudian berfungsi sebagai penghubung first-mile dan last-mile, membawa penumpang dari rumah menuju halte Trans Jatim dan sebaliknya.

Armada juga didorong untuk dimodernisasi, pembayaran dilakukan secara cashless, dan tarif dapat diintegrasikan dengan Trans Jatim.

Lebih jauh lagi, Prof Aji menawarkan perubahan model bisnis dari sistem setoran menuju Buy The Service (BTS). Pengemudi atau koperasi dapat dibayar berdasarkan kilometer perjalanan, bukan berdasarkan banyaknya penumpang yang berhasil didapatkan.

Model ini berpotensi menghapus budaya ngetem karena pengemudi tidak lagi harus berhenti sembarangan untuk mengejar penumpang.


SEKOLAH JUGA HARUS TERHUBUNG TRANS JATIM

Gagasan lain yang mencuri perhatian adalah integrasi Angkutan Pelajar Gratis (APG) dengan Trans Jatim.

Dalam skema yang ditawarkan, APG melayani wilayah permukiman atau pesantren yang tidak terjangkau koridor utama. Pelajar kemudian diantar menuju halte Trans Jatim untuk melanjutkan perjalanan antarkota atau antarwilayah.

Skemanya sederhana:

Rumah/Pesantren → Angkutan Pelajar → Halte Trans Jatim → Bus Trans Jatim → Sekolah/Kampus.

Bahkan, materi tersebut menawarkan konsep Single Student ID, sehingga satu identitas pelajar dapat digunakan dalam sistem tiket terintegrasi. Pada jam sekolah tertentu, sistem dapat menerapkan tarif gratis yang disubsidi melalui koordinasi APG dan PSO provinsi.

Jika diterapkan secara konsisten, konsep ini bukan hanya persoalan transportasi.

Ini menyentuh langsung persoalan biaya pendidikan, keselamatan pelajar dan pemerataan akses pendidikan.


TRANS JATIM BISA MENJADI MESIN PERTUMBUHAN EKONOMI

Paparan Prof Aji juga menunjukkan bahwa dampak Trans Jatim jauh melampaui urusan naik dan turun bus.

Mobilitas yang lebih murah memungkinkan masyarakat di wilayah penyangga menjangkau pusat industri dan lapangan pekerjaan tanpa harus tinggal di pusat kota. Pekerja dari Mojokerto atau Bangkalan, misalnya, dapat menjangkau pusat ekonomi seperti Gresik, Sidoarjo dan Surabaya.

Di sekitar halte dan koridor, lalu lintas manusia (foot traffic) juga berpotensi menghidupkan UMKM, warung, toko, jasa park and ride, hingga layanan logistik lokal. Operasional transportasi massal sekaligus menciptakan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung.

Artinya, halte bukan hanya tempat menunggu bus, tetapi dapat menjadi titik tumbuh ekonomi baru.


DARI MALANG RAYA HINGGA GERBANGKERTASUSILA

Trans Jatim dalam paparan tersebut diposisikan sebagai jaringan yang menghubungkan berbagai pusat pertumbuhan Jawa Timur.

Koridor yang dibahas mencakup Sidoarjo–Surabaya–Gresik, Mojokerto–Surabaya, Mojokerto–Gresik, Gresik–Lamongan, Surabaya–Bangkalan, Sidoarjo–Mojokerto, Lamongan–Paciran hingga ekspansi Malang Raya melalui rute Malang–Batu.

Khusus Malang Raya, keberadaan layanan tersebut dinilai penting karena kawasan ini merupakan pusat pendidikan, pariwisata dan aglomerasi regional yang menghadapi lonjakan kendaraan pribadi, terutama pada akhir pekan.


TRANSPORTASI PUBLIK BUKAN BEBAN, TETAPI INVESTASI SOSIAL

Pada akhirnya, inti pemikiran Prof Aji adalah bagaimana pemerintah membangun sistem transportasi yang memberikan manfaat langsung sekaligus efek pengganda bagi masyarakat.

Transportasi publik yang terjangkau dapat meningkatkan pendapatan siap belanja rumah tangga karena biaya BBM, parkir dan perawatan kendaraan pribadi dapat ditekan. Pada saat yang sama, perpindahan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan massal berpotensi mengurangi tekanan kemacetan, konsumsi energi dan emisi.

Lebih jauh, akses transportasi yang semakin baik dapat membuka kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan dan destinasi wisata dengan biaya lebih terjangkau.

Pesan besarnya:

Trans Jatim tidak boleh berhenti sebagai proyek transportasi. Ia harus menjadi proyek peradaban mobilitas Jawa Timur.

Busnya harus terintegrasi.
Angkot harus menjadi feeder.
Pelajar harus mendapatkan akses yang murah bahkan gratis.
Teknologi harus menjamin kepastian waktu.
UMKM harus tumbuh di sekitar simpul transportasi.
Dan masyarakat harus melihat naik angkutan umum bukan sebagai pilihan kelas dua, tetapi sebagai smart choice untuk masa depan.

Dalam forum tersebut, Prof Aji Suraji hadir bersama Ketua DPP INKINDO Jawa Timur, Rektor Universitas Widya Gama Malang, serta Wakil Ketua DPP INKINDO Jawa Timur, membahas masa depan implementasi Trans Jatim dan manfaatnya bagi masyarakat.

Jika Jawa Timur serius membangun transportasi publik, maka pertanyaan ke depan bukan lagi “berapa banyak bus yang harus ditambah?”, tetapi “seberapa terintegrasi seluruh ekosistem mobilitas masyarakat yang bisa kita bangun?” (humas)

Berita Terbaru UWG