MALANG, 13/8/2206 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Widya Gama Malang (FP UWG). Tiga mahasiswa FP UWG berhasil menembus jajaran Finalis MUARA 2026 – National Call for Paper melalui gagasan inovatif yang mengangkat persoalan limbah kopi sekaligus menawarkan model bisnis berbasis ekonomi sirkular.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Mochammad Fathir Choirifaldi sebagai Ketua Tim, Aisyaha Viona Febriyanti, dan Ulfa Qomaria. Mereka mengusung paper berjudul “Coffee Waste Circular Hub: A Replicable Rural–Urban Business Model from Malang for Indonesia’s Coffee-Producing Regions.”
Karya tersebut menawarkan gagasan pengembangan Coffee Waste Circular Hub, sebuah model yang berupaya mengubah persoalan limbah kopi menjadi peluang ekonomi melalui pendekatan ekonomi sirkular serta menghubungkan potensi wilayah pedesaan dengan peluang bisnis di kawasan perkotaan.


Capaian ini menjadi semakin istimewa karena bagi ketua tim, Mochammad Fathir Choirifaldi, MUARA 2026 merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi karya ilmiah semacam ini.
“Waktu tahu kalau tim kami berhasil masuk sebagai finalis MUARA 2026, rasanya tentu senang dan bangga. Soalnya kami tidak menyangka bahwa tim kami bisa lolos ke babak final,” ungkap Fathir.
Berawal dari Keinginan Mencoba Hal Baru
Keikutsertaan Fathir bersama Aisyaha Viona Febriyanti dan Ulfa Qomaria berawal dari keinginan untuk menambah pengalaman akademik sekaligus mencoba tantangan baru.
“Saya tertarik untuk mengikuti kompetisi ini karena ingin menambah pengalaman di kampus dan ingin mendapatkan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah saya rasakan,” kata Fathir.
Bagi ketiga mahasiswa tersebut, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan mereka dalam mengembangkan ide, menyusun karya ilmiah, mencari referensi, mengolah data, hingga mempertahankan gagasan yang ditawarkan dalam paper.
Proses menuju finalis pun tidak berlangsung mudah. Tim harus menyiapkan paper sesuai ketentuan, memastikan isi penelitian memiliki dasar yang kuat, serta melewati proses penilaian dari para reviewer.
“Proses seleksinya cukup singkat tetapi rumit. Karena kami harus menyiapkan paper sesuai ketentuan, memastikan isi penelitian benar-benar kuat, kemudian melewati proses penilaian dari para reviewer. Setelah itu, kami dinyatakan lolos dan masuk dalam daftar finalis MUARA 2026.”
Selama proses tersebut, tim terus melakukan berbagai penyempurnaan agar karya yang diajukan dapat mencapai hasil maksimal.
Tantangan: Membuat Ide yang Menarik Sekaligus Realistis
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Fathir, Viona, dan Ulfa adalah bagaimana menghasilkan gagasan yang bukan hanya menarik secara akademik, tetapi juga memiliki kemungkinan untuk diterapkan di dunia nyata.
“Tantangan terbesar menurut saya adalah menyusun ide yang tidak hanya menarik, tetapi juga realistis untuk diterapkan. Selain itu, mencari referensi yang relevan, menyusun data agar saling mendukung,” jelas Fathir.
Tantangan tersebut menjadi proses pembelajaran penting bagi ketiga mahasiswa. Mereka dituntut tidak hanya kreatif dalam menghasilkan gagasan, tetapi juga mampu membangun argumentasi ilmiah yang didukung referensi dan data.
Mengubah Limbah Kopi Menjadi Peluang
Paper yang mereka usung berangkat dari persoalan sekaligus potensi besar sektor kopi.
Melalui konsep Coffee Waste Circular Hub, tim FP UWG mencoba melihat limbah kopi bukan semata-mata sebagai sisa produksi yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi.
Model tersebut dirancang dengan perspektif yang dapat direplikasi di berbagai wilayah penghasil kopi Indonesia. Dengan demikian, konsep yang dikembangkan tidak hanya relevan untuk Malang, tetapi juga berpotensi diterapkan di berbagai sentra produksi kopi lainnya.
Gagasan tersebut memperlihatkan bagaimana mahasiswa pertanian dapat mengambil peran lebih luas dalam menjawab persoalan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Membawa Nama FP UWG ke Panggung Kompetisi
Bagi Fathir, keberhasilan menjadi finalis MUARA 2026 bukan hanya pencapaian pribadi maupun tim, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Fakultas Pertanian Universitas Widya Gama Malang.
“Buat saya pribadi, pencapaian ini menjadi bukti bahwa usaha dan kerja keras yang dilakukan selama ini tidak sia-sia. Sementara untuk Fakultas Pertanian UWG, saya berharap pencapaian ini bisa menjadi kebanggaan sekaligus memotivasi teman-teman mahasiswa lainnya untuk lebih berani mengikuti kompetisi dan menghasilkan karya yang bermanfaat.”
Ia berharap keberhasilan tim bersama Aisyaha Viona Febriyanti dan Ulfa Qomaria dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lainnya untuk tidak takut mencoba hal baru.
Sebab, menurutnya, keberanian untuk mengikuti kompetisi yang belum pernah diikuti sebelumnya justru membuka pengalaman baru yang sangat berharga.
“Sebelumnya saya belum pernah mengikuti kompetisi seperti ini, dan ini menjadi tantangan terbesar saya karena saya berani untuk mencoba hal baru yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Tetapi ini menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan karena bisa membawa nama Fakultas Pertanian UWG sebagai finalis.”
Dalam penyusunan karya tersebut, tim mendapatkan bimbingan dari Rosita Putri, SP., MP. dan Hanifatuz Zahro, SP., MP.
Dukungan dan arahan dosen pembimbing menjadi bagian penting dalam proses pengembangan gagasan hingga penyempurnaan paper yang akhirnya berhasil membawa nama FP UWG masuk dalam jajaran finalis MUARA 2026.
Bukan Akhir, tetapi Awal Perjalanan
Bagi Fathir, capaian ini bukanlah akhir dari perjalanan akademiknya bersama tim. Justru, keberhasilan tersebut menjadi titik awal untuk terus mengembangkan kemampuan penelitian dan berani mengikuti kompetisi-kompetisi berikutnya.
“Saya berharap pengalaman ini menjadi awal untuk terus belajar, mengikuti kompetisi lainnya, dan menghasilkan penelitian yang lebih baik lagi,” pungkasnya.
Prestasi Mochammad Fathir Choirifaldi, Aisyaha Viona Febriyanti, dan Ulfa Qomaria menjadi bukti bahwa mahasiswa Fakultas Pertanian UWG mampu mengembangkan gagasan yang berangkat dari persoalan lokal untuk menjawab tantangan yang lebih luas.
Dari Malang, mereka membawa pesan bahwa limbah kopi bukan sekadar persoalan lingkungan. Dengan inovasi, penelitian, dan keberanian mahasiswa, limbah tersebut dapat dilihat sebagai peluang untuk membangun model ekonomi sirkular yang menghubungkan pertanian, lingkungan, masyarakat, dan dunia usaha.
Keberhasilan tiga mahasiswa FP UWG ini sekaligus mempertegas bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu, tetapi juga ruang bagi lahirnya gagasan yang mampu dibawa ke panggung kompetisi nasional dan memberikan dampak bagi masyarakat.(San/PIP)





