Malang, 2 Maret 2026 — Dialog publik bertajuk “Mudik Gratis, Untuk Senyum di Hari Raya” dalam program Malang Menyapa yang disiarkan oleh RRI Malang menghadirkan pakar transportasi dari Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Widya Gama Malang, Prof. Dr. Ir. Aji Suraji, ST., MSc., IPU., ASEAN Eng.. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa mudik bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan kearifan lokal dan gerakan kepedulian sosial yang sarat makna budaya.
Menurut Prof. Aji, kontribusi ekonomi mudik ke masing-masing daerah tujuan tidak selalu signifikan. Namun, dampaknya bisa menjadi positif jika destinasi dikelola dengan baik—mulai dari kesiapan infrastruktur, layanan publik, hingga konektivitas transportasi lokal yang rapi. “Mudik itu pergerakan orang. Kalau dikelola cerdas, manfaatnya terasa. Kalau tidak, justru menambah beban,” tegasnya.
BUS Lebih Efektif dari Mobil Pribadi, Kapasitas Jalan Lebih Lega
Sorotan utama Prof. Aji tertuju pada efektivitas moda transportasi. Ia menilai penggunaan bus saat arus mudik jauh lebih efisien dibanding mobil pribadi.
- Bus = kapasitas lalu lintas lebih efektif (banyak orang, satu kendaraan)
- Mobil pribadi = kebutuhan ruang jalan melonjak (lebih banyak kendaraan, kepadatan naik)
Studi banding karakteristik arus mudik di Malang juga berbeda dengan daerah yang basis pekerjanya dekat kawasan pabrik/industri. Pola pergerakan orang memengaruhi beban jalan. Ia menambahkan, hingga kini riset arus mudik komprehensif masih terbatas, sehingga kebijakan perlu berbasis data yang terus diperbarui.
Mudik Gratis: Tepat Sasaran untuk Buruh Pabrik, Ringankan Beban Urban Worker
Program mudik gratis oleh perusahaan dinilai sebagai kontribusi positif untuk pekerja urban, terutama buruh pabrik berpenghasilan rendah. Fasilitas ini dinilai tepat sasaran dan cukup membantu meringankan biaya pulang kampung.
“Secara efektivitas lalu lintas, dampaknya mungkin tak besar. Tapi sebagai gerakan sosial, mudik gratis itu penting,” jelas Prof. Aji.
Ia juga mengulas sisi sosial-budaya mudik: bagi sebagian pemudik, pulang kampung—bahkan dengan mobil pribadi—menjadi ekspresi keberhasilan di kota. Fenomena ini wajar secara sosial, meski tidak selalu efektif dari sudut pandang transportasi.
Tarif TUSLAH Wajar Saat Permintaan Tinggi, Kecuali Ada Subsidi
Soal lonjakan tarif mudik (TUSLAH), Prof. Aji menyebutnya wajar dalam konteks pasar ketika permintaan tinggi. Skema tarif khusus ini bisa ditekan jika ada intervensi pemerintah, misalnya subsidi biaya transportasi mudik agar lebih terjangkau bagi kelompok rentan.
Catatan Keamanan: Turunkan Pemudik di Titik Terkoneksi Transportasi
Ia menutup dengan pesan penting untuk penyelenggara mudik gratis: penurunan penumpang harus di lokasi yang terkoneksi dengan moda lanjutan (angkot/bus lokal/ojek resmi). Tujuannya, keamanan dan kemudahan akses ke rumah pemudik terjamin.
Kesimpulan Tajam:
Mudik adalah tradisi bernilai sosial-budaya tinggi. Solusi transportasi massal (bus) + program mudik gratis tepat sasaran + konektivitas transportasi lokal = kunci menekan macet dan menjaga keselamatan. Tanpa tata kelola yang matang, euforia mudik bisa berubah jadi beban infrastruktur. (san/pip)





