kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang terbuka dan demokratis. Bertempat di Selasar Lobby Lantai 1 Fakultas Hukum pada Kamis (21/5/2026), digelar kegiatan “Dialog Semester Fakultas Hukum” yang mempertemukan pimpinan fakultas dengan mahasiswa dalam forum terbuka penuh dinamika dan gagasan konstruktif.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Dekan Fakultas Hukum UWG, Dr. Ibnu Subarkah , SH.MHum., Wakil Dekan, Dr. Adiloka, SH.MH., Ketua Program Studi Ilmu Hukum, Dr. Sulthon, SH.MH., Kepala Tata Usaha, perwakilan dosen, Dr. Zahir Rusyad , SH.MH., Zulkarnain, SH.MH., serta jajaran organisasi mahasiswa seperti BEM FH, DPM FH, Gubernur Mahasiswa FH, dan seluruh mahasiswa Fakultas Hukum.
Dalam sambutannya, Dekan FH UWG menegaskan bahwa Fakultas Hukum merupakan salah satu fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di lingkungan kampus UWG Malang. Karena itu, mahasiswa diminta ikut berperan aktif mempromosikan kampus, terutama dalam mendukung Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).





“Kalian semua mahasiswa yang berkualitas. Organisasi harus dijalankan dengan baik. BEM FH menjadi jembatan dialog dengan fakultas. Fakultas memberikan ruang komunikasi seluas-luasnya dan siap melayani mahasiswa dengan baik,” ujar Dr. Ibnu Subarkah.
Sementara itu, Ketua DPM FH, Muhammad Irfan Dzaki, menegaskan bahwa Dialog Semester merupakan wadah resmi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi baik akademik maupun non-akademik.
Ia menyoroti beberapa persoalan fasilitas yang dinilai belum optimal dalam menunjang kenyamanan perkuliahan, mulai dari sarana prasarana kelas hingga fasilitas umum yang membutuhkan pembenahan serius.
“Dialog Semester ini menjadi inti penyampaian aspirasi mahasiswa Fakultas Hukum agar tercipta suasana akademik yang lebih nyaman dan kondusif,” tegasnya.
Suasana forum semakin hidup ketika perwakilan mahasiswa menyampaikan hasil konsolidasi aspirasi dari berbagai angkatan. Sejumlah isu penting menjadi perhatian, di antaranya perubahan pedoman skripsi bagi mahasiswa angkatan 2022, jadwal mata kuliah agama yang dinilai mendadak, dugaan penyelewengan akademik, tujuan pembelajaran yang belum optimal, hingga fasilitas bangku kelas dan toilet yang dianggap kurang layak.
Mahasiswa juga menyoroti sikap beberapa asisten dosen dalam proses penyusunan skripsi yang dinilai kurang konsisten dan tidak bertanggung jawab. Selain itu, muncul usulan agar jadwal kuliah hari Sabtu dipindahkan ke hari kerja serta adanya pengenalan dosen kepada mahasiswa agar tercipta komunikasi akademik yang lebih baik.
Menanggapi persoalan perubahan pedoman penulisan skripsi, Dekan Fakultas Hukum UWG memberikan penegasan bahwa pembaruan tersebut dilakukan bukan untuk mempersulit mahasiswa, melainkan demi peningkatan mutu akademik yang menyesuaikan standar pendidikan dan kurikulum terbaru.
“Pedoman penulisan skripsi yang diperbarui adalah demi peningkatan mutu sesuai standar dan kurikulum. Jangan dianggap negatif, justru ini positif untuk masa depan kalian setelah lulus nanti,” tegas Dr. Ibnu Subarkah di hadapan mahasiswa.
Meski penuh kritik, forum berlangsung tertib dan santun. Ketua pelaksana kegiatan mengapresiasi kehadiran seluruh pimpinan fakultas dan berharap dialog tersebut menjadi awal budaya komunikasi sehat antara mahasiswa dan pihak kampus.
“Kami berharap seluruh peserta menyampaikan pendapat secara santun dan tidak destruktif. Ini adalah langkah awal membangun komunikasi yang baik demi peningkatan kualitas pembelajaran di Fakultas Hukum,” ujarnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Wakil Dekan dan Ketua Prodi Ilmu Hukum menyatakan seluruh aspirasi mahasiswa akan ditindaklanjuti secara bertahap demi meningkatkan kenyamanan dan mutu layanan akademik di Fakultas Hukum.
Di akhir dialog, Dekan FH UWG kembali menegaskan bahwa sistem akademik yang berlaku merupakan bagian dari peningkatan mutu pendidikan. Namun demikian, pihak fakultas tetap membuka diri terhadap kritik dan evaluasi.
“Kami mengapresiasi mahasiswa Fakultas Hukum UWG yang kritis dan peduli terhadap mutu layanan akademik. Aspirasi yang disampaikan melalui organisasi mahasiswa menunjukkan adanya kepekaan untuk bersama-sama membangun Fakultas Hukum menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa Fakultas Hukum UWG saat ini tengah menjalani proses re-akreditasi dan berharap dapat meraih predikat Akreditasi UNGGUL.
Dialog Semester Fakultas Hukum UWG Malang ini menjadi bukti bahwa budaya akademik yang sehat tidak hanya dibangun melalui ruang kuliah, tetapi juga melalui keberanian berdialog, keterbukaan menerima kritik, dan komitmen bersama untuk terus melakukan perbaikan menuju kualitas pendidikan tinggi yang unggul.(San/PIP)





