Malang, 17 Agustus 2026— Komitmen terhadap pelestarian budaya lokal dan pemberdayaan masyarakat kembali diwujudkan melalui Program Desa Binaan. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Widya Gama Malang menyerahkan hibah seperangkat gamelan kepada Desa Tumpang, Kabupaten Malang, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni dan budaya masyarakat setempat. Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.
Desa Tumpang merupakan salah satu desa yang tengah menjalankan program Pemajuan Kebudayaan Desa (Desa Budaya) dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Pada tahun 2026, program tersebut memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, dengan fokus pada penguatan potensi budaya sekaligus pengembangan kapasitas masyarakat.
Penyerahan gamelan tidak hanya dimaknai sebagai pemberian sarana kesenian, tetapi sebagai investasi untuk keberlanjutan budaya lokal. Gamelan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan seni Bantengan, pertunjukan budaya, pembinaan generasi muda, serta berbagai aktivitas kebudayaan masyarakat Desa Tumpang.
Selain penyerahan gamelan, kegiatan juga diisi dengan pelatihan pengelolaan organisasi sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan keberlanjutan mitra.
Pelatihan Keuangan Organisasi disampaikan oleh Prof. Dr. Ana Sopanah S, SE., M.Si., Ak., CA., CMA. bersama Dr. Irfany Rupiwardani, SE., MMRS. Materi menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang transparan, tertib, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengurus dan anggota diberikan pemahaman bahwa tata kelola keuangan yang baik merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan sekaligus menjaga keberlanjutan organisasi.






Sementara itu, Pelatihan Manajemen Organisasi disampaikan oleh Devita Sari, ST., M.M. bersama Widiarto, S.E. Materi diarahkan pada penguatan pembagian tugas, koordinasi, komunikasi, kepemimpinan, serta kemampuan organisasi dalam merencanakan dan menjalankan program secara bersama.
Dalam kegiatan tersebut, Widiarto, S.E., selaku Kepala Desa Tumpang, turut memberikan motivasi kepada peserta untuk terus membangun kolaborasi. Ia mendorong agar keberadaan hibah dan program pendampingan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan dikembangkan melalui kerja sama antaranggota, komunitas, pemerintah, perguruan tinggi, serta berbagai pihak lainnya.
“Kolaborasi menjadi kunci agar potensi budaya yang kita miliki tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan kebanggaan masyarakat Desa Tumpang.”
Program Desa Binaan di Desa Tumpang dirancang dengan pendekatan yang mengintegrasikan pelestarian budaya, penguatan organisasi, digitalisasi, dan pengembangan ekonomi kreatif. Hibah gamelan menjadi salah satu bentuk dukungan sarana, sementara pelatihan keuangan dan manajemen menjadi bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun organisasi budaya yang tidak hanya aktif berkesenian, tetapi juga memiliki tata kelola yang baik dan mampu berkembang secara mandiri.
Pengabdian desa binaan selama 3 tahun, bantuan berupa gamelan, website dan pelatihan kerorganisasian
Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat, Program Desa Binaan diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi Desa Tumpang. Gamelan yang diserahkan diharapkan menjadi sarana untuk menghidupkan aktivitas seni, sementara peningkatan kapasitas organisasi menjadi modal untuk memastikan seluruh potensi tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Budaya adalah identitas, kolaborasi adalah kekuatan, dan tata kelola yang baik adalah fondasi keberlanjutan.”
Dengan semangat tersebut, Universitas Widya Gama Malang bersama Desa Tumpang berkomitmen untuk terus melestarikan seni Bantengan, memperkuat organisasi masyarakat, mengembangkan ekonomi kreatif, dan membangun desa yang berdampak.





