Diskusi Santai UWG–Kapolresta Malang Jadi Sorotan, Mahasiswa Diajak Jadi Agen Perubahan Lawan Miras dan Penipuan Online

by | May 23, 2026 | Berita, Kabar Mahasiswa | 0 comments

MALANG – Suasana hangat dan penuh keterbukaan terasa dalam diskusi santai antara mahasiswa Universitas Widya Gama (UWG) Malang bersama Kapolresta Malang Kota, AKBP Putu Kholis, SIK., yang digelar di Selling Well Cafe dan Resto pada Sabtu malam (23/5/2026) pukul 19.00 WIB.

Acara semi formal tersebut dihadiri langsung oleh Rektor UWG, Dr. Anwar, SH., M.Hum., Kepala Biro Administrasi Akademik, Kepala Humas UWG, Kabag Kemahasiswaan, serta 20 mahasiswa perwakilan organisasi kemahasiswaan (ORMAWA) UWG Malang.

Dalam sambutannya, Rektor UWG menegaskan bahwa kampus UWG terus menunjukkan perkembangan signifikan sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di Indonesia.

“UWG saat ini berada di peringkat 3 terbaik di Malang dan peringkat 81 nasional. Ini menjadi semangat bagi kami untuk terus maju dan mendorong mahasiswa menjadi insan unggul yang tetap beradab,” ujar Dr. Anwar.

Ia menekankan bahwa mahasiswa UWG tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, namun juga mampu membangun wawasan sosial melalui dialog terbuka bersama berbagai pihak, termasuk kepolisian.

“Diskusi ini santai saja, saling sharing, supaya mahasiswa mendapatkan pengalaman dan perspektif yang luas tentang kondisi masyarakat saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolresta Malang Kota, Putu Kholis, membuka ruang dialog secara terbuka kepada mahasiswa untuk membahas berbagai isu sosial yang sedang berkembang.

“Kita diskusi santai. Semua hal yang sedang diketahui mahasiswa boleh dibahas, termasuk isu-isu terkini. Hasil diskusi ini akan kami teruskan kepada wali kota dan Forkopimda,” tegasnya.

Dalam sesi dialog, Presiden Mahasiswa UWG, Adi, mengangkat sejumlah persoalan yang menjadi perhatian mahasiswa, mulai dari maraknya minuman keras, kebutuhan transportasi mahasiswa luar daerah, hingga kepadatan Kota Malang akibat konflik antarmahasiswa dari luar kota.

Menanggapi hal tersebut, Putu Kholis memberikan perhatian serius terhadap persoalan peredaran minuman keras yang menurutnya menjadi sumber berbagai tindak kriminalitas.

“Miras bukan budaya. Dalam Islam haram, dan dari sisi sosial dampaknya sangat buruk. Banyak tindak kejahatan berawal dari miras karena perilaku menjadi tidak terkontrol,” ungkapnya.

Ia bahkan menggambarkan secara lugas dampak konsumsi miras terhadap kesehatan dan perilaku sosial.

“Orang mabuk itu reseh, bicara ngelantur, lalu akhirnya pusing dan tidak sadar. Itu berbahaya bagi dirinya maupun orang lain,” katanya.

Kapolresta juga membeberkan upaya kepolisian dalam memutus rantai distribusi minuman keras ilegal di wilayah Malang Raya.

“Kami telah menyita sekitar 3.000 botol miras. Banyak distribusi berasal dari Bali seperti arak Bali. Bahkan ada produksi ilegal di Bantur, Dampit, dan Poncokusumo dengan kadar alkohol tidak jelas dan proses yang tidak higienis,” jelasnya.

Ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat menyebabkan keracunan hingga gangguan kesehatan serius bagi masyarakat.

Tidak hanya miras, Putu Kholis juga menyoroti ancaman narkoba dan kejahatan siber yang kini semakin kompleks dan terorganisir lintas negara.

“Ada produksi narkoba di sekitar Pasuruan yang potensi penyebarannya ke Malang dan Surabaya. Ini terjadi karena masih ada permintaan dari masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa UWG menjadi agen perubahan dalam memberantas penyakit masyarakat.

“Bayangkan kalau ribuan mahasiswa di Malang kompak menolak miras dan narkoba. Mahasiswa punya ruang besar untuk menjadi agen perubahan menjaga lingkungan masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa juga menanyakan maraknya kasus penipuan online dan judi online yang belakangan menjadi laporan dominan di kepolisian.

Menanggapi hal itu, Putu Kholis menyebut bahwa masyarakat masih mudah tergiur iming-iming keuntungan instan.

“Penipuan online dan judol ini kejahatan terorganisir. Sindikatnya tidak tunggal, bahkan lintas negara. Mereka memanfaatkan kelemahan masyarakat yang malas membaca dan mudah percaya dengan rangkaian kata-kata,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa media sosial saat ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku masyarakat, termasuk menyebarkan informasi yang belum tentu benar.

“Manipulasi konten di medsos sekarang luar biasa. Ada yang menempel logo negara untuk menipu masyarakat. Bahkan isu begal yang viral setelah dicek polisi ternyata tidak benar. Ini yang membuat keresahan,” paparnya.

Kepala Biro Administrasi Akademik UWG, Ir. Suprihana, MP., menjelaskan bahwa kegiatan ini bermula dari keinginan Kapolresta Malang untuk berdiskusi langsung dengan mahasiswa.

“Melalui Humas Polresta, permintaan diskusi disampaikan kepada Rektor UWG. Tema dibuat bebas agar mahasiswa lebih nyaman menyampaikan aspirasi dan pandangan mereka,” ujarnya.

Soroti Masalah MBG: “Tata Kelolanya Masih Bermasalah”
Dalam diskusi tersebut, Putu Kholis turut menyoroti persoalan pengelolaan MBG yang belakangan menjadi perhatian publik akibat sejumlah kasus keracunan.
Menurutnya, akar persoalan bukan hanya pada teknis distribusi, tetapi juga lemahnya tata kelola dan kesiapan sumber daya manusia.
“Masalah MBG ini ada pada tata kelolanya,” ungkapnya.
Ia mengatakan pihak kepolisian telah memberi perhatian serius terhadap pengawasan proses pengelolaan MBG di lapangan.
“Kami dari pihak kepolisian menekankan kepada anggota untuk mengawasi betul proses pengelolaan MBG,” jelasnya.
Untuk memahami persoalan secara komprehensif, pihak kepolisian bahkan melakukan koordinasi dengan para ahli gizi.
“Kami juga bertemu ahli gizi untuk mendapatkan referensi menyeluruh,” katanya.
Kapolresta menilai salah satu penyebab utama persoalan MBG adalah proses perekrutan pegawai yang terlalu instan sehingga manajemen SDM belum siap.
“Hal ini terjadi karena rekrutmen pegawai MBG dilakukan secara instan, sehingga persiapan manajemen SDM kurang baik,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak kalangan kampus dan mahasiswa untuk ikut mengambil peran dalam pengawasan program tersebut.
“Kampus bisa mengambil peran dalam kasus keracunan MBG ini. Mahasiswa dapat mengawal dan mengawasi langsung agar bisa berkontribusi dalam pengelolaan MBG,” tegasnya.
KDMP dan Koperasi Merah Putih Dinilai Belum Tertata
Selain MBG, Putu Kholis juga menyinggung persoalan KDMP dan pengelolaan Koperasi Merah Putih yang menurutnya masih menghadapi banyak tantangan di lapangan.
“Terkait koperasi merah putih, ini juga belum sesuai dengan pengelolaannya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa konsep program pemerintah sebenarnya baik, namun implementasinya belum tertata secara optimal.
“Sebetulnya konsep dari pemerintah sudah bagus, koperasi merah putih dieksekusi. Tetapi dalam pelaksanaannya pengelolaan belum tertata dengan baik,” ujarnya.
Kapolresta juga menyoroti persoalan ketergantungan anggaran daerah terhadap pemerintah pusat.
“Anggaran daerah sangat bergantung kepada pemerintah pusat. Karena itu pemerintah daerah harus benar-benar tepat dalam mengelola anggaran agar program bisa berjalan baik,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga berdampak pada kebijakan fiskal daerah.
“Pemerintah daerah sudah lama tidak menaikkan pajak karena memang selama ini masih bergantung pada pemerintah pusat,” katanya.
Khusus mengenai KDMP, ia menilai penggunaan anggaran desa menjadi persoalan tersendiri karena kesiapan anggaran belum matang.
“KDMP menggunakan anggaran desa, dan ini menjadi masalah karena belum siap secara anggaran,” ungkapnya.
Mahasiswa UWG Didorong Jadi Agen Perubahan
Selain membahas MBG dan KDMP, forum tersebut juga membicarakan persoalan miras, narkoba, hingga judi online yang dinilai menjadi ancaman serius generasi muda.
Kapolresta mengungkapkan bahwa pihak kepolisian telah menyita sekitar 3.000 botol miras ilegal di wilayah Malang Raya dan menemukan sejumlah home industry miras ilegal di Kabupaten Malang.
Ia pun mengajak mahasiswa UWG menjadi agen perubahan untuk menjaga ketertiban sosial di masyarakat.
“Kalau ribuan mahasiswa di Malang kompak menolak miras dan narkoba, dampaknya akan luar biasa bagi masa depan kota ini,” ujarnya.
Diskusi malam itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum santai. Pertemuan tersebut berubah menjadi ruang refleksi kebangsaan, ketika kampus dan aparat negara duduk bersama membahas persoalan nyata masyarakat serta masa depan generasi muda Indonesia.

Diskusi yang berlangsung hangat tersebut menjadi ruang kolaborasi antara dunia akademik dan aparat penegak hukum dalam membangun kesadaran sosial generasi muda. Mahasiswa UWG tidak hanya diajak memahami persoalan masyarakat, tetapi juga didorong menjadi bagian dari solusi menjaga kondusivitas Kota Malang.(San/PIP)

Berita Terbaru UWG