Bukan Sekadar Rendang! Peneliti UWG dan ICCN Petakan Strategi Gastronomi Padang Menuju UNESCO 2027

by | Oct 10, 2026 | Berita, FEB | 0 comments

PADANG, 8 Oktober 2026 — Kekayaan gastronomi Minangkabau tidak hanya tersaji melalui rendang dan gulai. Di balik hidangan khas yang telah dikenal luas, tersimpan filosofi kebersamaan, peran strategis perempuan, kearifan lokal, hingga tradisi sosial yang menjaga pengetahuan budaya lintas generasi. Modal budaya inilah yang kini dipetakan Pemerintah Kota Padang bersama Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan peneliti Universitas Widya Gama Malang (UWG) untuk memperkuat langkah menuju UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Gastronomi pada 2027.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Pemetaan Ekosistem Gastronomi yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Padang di HW Hotel Padang, Kamis (8/10/2026). Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan lembaga pembiayaan dalam satu agenda strategis: menjadikan gastronomi sebagai kekuatan budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif dan pembangunan berkelanjutan.

Pesan utama dari forum tersebut tegas: gastronomi tidak cukup dipahami sebagai urusan makanan. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal, identitas masyarakat, sistem produksi dan distribusi, pola konsumsi, serta upaya pelestarian warisan budaya yang diwariskan lintas generasi.

“Gastronomi tidak sama dengan kuliner. Itu yang kita harus bersepakat,” ungkap Vicky Arief Herinadharma, Ketua Harian ICCN, dalam diskusi tersebut.

Pernyataan itu menjadi pijakan penting dalam memetakan kekuatan gastronomi Padang. Kota ini tidak hanya perlu menonjolkan kelezatan masakannya, tetapi juga mengangkat cerita, filosofi, praktik sosial, dan ekosistem masyarakat yang membentuk tradisi pangan Minangkabau.

Makan Bajamba dan Bundo Kanduang: Kekuatan Budaya yang Menjadi Pembeda

Salah satu kekuatan yang mengemuka dalam diskusi adalah tradisi makan bajamba. Praktik makan bersama ini mengandung nilai kebersamaan, tata krama, dan penghormatan terhadap sesama. Y Vujji El Ikhsan, Koordinator Daerah ICCN Sumatera Barat, menyoroti tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas sosial yang patut diperhitungkan dalam pengembangan gastronomi.

Selain itu, peran Bundo Kanduang menjadi dimensi penting yang tidak dapat dipisahkan dari ekosistem budaya Minangkabau.

Akademisi Prof. Siti Fatimah menyoroti posisi perempuan yang memiliki peran dalam kehidupan sosial dan politik, termasuk dalam menjaga lingkungan. Perspektif ini memperluas pemahaman bahwa gastronomi bukan hanya berbicara tentang makanan, melainkan juga tentang manusia, relasi sosial, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan.

Nilai raso jo pareso, tradisi makan bersama, serta peran perempuan menjadi bagian dari modal sosial-budaya yang dapat memperkuat karakter gastronomi Padang di tengah persaingan kota-kota kreatif dunia.

UWG Hadirkan Kerangka Strategis: Dari Aset Budaya Menuju Kekuatan Ekosistem

Kontribusi akademik dalam pemetaan ini diperkuat oleh Dr. Hanif Rani Iswari, S.E., M.M., dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Gama Malang (UWG), sekaligus Direktur Riset dan Knowledge ICCN.

Melalui penggalian pengetahuan, FGD multipihak, serta analisis tematik-abduktif, Hanif mengembangkan kerangka konseptual strategis bertajuk From Cultural Assets to Ecosystem Capabilities.

Kerangka tersebut menghubungkan empat dimensi utama, yaitu Asset Endowment atau ketersediaan aset, Actor Connectivity atau keterhubungan para aktor, Orchestration Capability atau kemampuan menyelaraskan sumber daya, dan Collective Value Creation atau penciptaan manfaat bersama.

Pendekatan ini menempatkan kekayaan budaya sebagai titik awal yang harus diolah menjadi kemampuan ekosistem. Artinya, potensi gastronomi tidak akan berkembang optimal hanya dengan mengandalkan warisan kuliner. Diperlukan keterhubungan antarpelaku, koordinasi lintas sektor, dan mekanisme kolaborasi yang mampu menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Pemetaan tersebut juga mencakup lima rantai nilai gastronomi, yakni kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi. Seluruhnya dikaitkan dengan prinsip People, Planet, Prosperity, Peace, dan Partnership atau 5P.

Dengan pendekatan ini, gastronomi diharapkan dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, pertumbuhan ekonomi, kehidupan sosial yang harmonis, dan kemitraan yang berkelanjutan.

Kolaborasi Menjadi Kunci, Bukan Sekadar Kekayaan Potensi

Tantangan terbesar Padang bukan semata-mata terletak pada ketersediaan sumber daya. Salah satu peserta dari unsur Bappeda menegaskan bahwa kekuatan yang dimiliki daerah perlu didukung kolaborasi yang lebih solid.

“Kami memiliki itu semua, cuma … bagaimanapun kolaborasi kuncinya,” ungkap peserta tersebut.

Pandangan ini sejalan dengan penekanan Mario Devys, Sekretaris Eksekutif ICCN, yang mendorong agar hubungan antara gastronomi dan persoalan pembangunan kota menjadi perhatian utama.

“Ketika gastronomi bisa menjadi solusi, ini yang harus kita cari sebenarnya, kata kunci,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa pengembangan gastronomi perlu diarahkan pada persoalan nyata yang dihadapi kota. Kekayaan pangan dan budaya harus memiliki hubungan yang jelas dengan penguatan ekonomi masyarakat, keberlanjutan lingkungan, pengembangan usaha kreatif, dan pelestarian identitas lokal.

Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar pemetaan gastronomi tidak berhenti sebagai inventarisasi potensi, tetapi berkembang menjadi landasan perencanaan dan pelaksanaan program yang terarah.

Sinergi Pemkot Padang, ICCN, UWG, dan Komunitas Lokal

Agenda strategis ini berkaitan dengan percepatan program unggulan Kota Padang yang melibatkan Didi Aryadi selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Padang, Yenni Yuliza, S.T., M.T., selaku Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, serta Prof. Dr. Ir. James Hellyward, M.S., IPU, ASEAN Eng., dari Tim Percepatan Program Unggulan.

Proses pemetaan turut diperkuat Amar Alpabet Fuadu Zakiah, Deputi 3 ICCN, bersama jejaring komunitas kreatif Sumatera Barat, termasuk Y Vujji El Ikhsan dari ICCN Sumatera Barat, Yulviadi dari Sumbar Kreatif dan Padang Creative City Forum, serta Nurdin Hamzah Hidayat dari Komunitas Kreatif Kupi Batigo dan Padang Creative City Forum.

Kolaborasi ini mempertemukan kepemimpinan pemerintah daerah, jejaring kota kreatif, kajian akademik Universitas Widya Gama Malang (UWG), dan pengetahuan komunitas lokal dalam satu proses pemetaan ekosistem gastronomi.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi penting karena keberhasilan pengembangan gastronomi membutuhkan partisipasi para pelaku yang berhubungan langsung dengan budaya pangan, mulai dari pemilik pengetahuan tradisional hingga pelaku usaha, komunitas kreatif, akademisi, dan pemerintah.

Menuju UNESCO 2027: Mengubah Warisan Menjadi Manfaat Nyata

Target menuju UNESCO Creative Cities Network bidang Gastronomi pada 2027 memberikan momentum bagi Padang untuk merumuskan pendekatan pembangunan yang berakar pada identitas lokal.

Namun, kekuatan gastronomi tidak cukup diukur dari popularitas makanan atau kekayaan resep tradisional. Potensi tersebut perlu ditopang oleh ekosistem yang mampu menjaga warisan budaya, menghubungkan para pelaku, menciptakan peluang ekonomi, serta memastikan keberlanjutan bagi generasi berikutnya.

Melalui pemetaan yang melibatkan Pemerintah Kota Padang, ICCN, Universitas Widya Gama Malang (UWG), akademisi, dan komunitas kreatif, fondasi awal pengembangan ekosistem gastronomi mulai dirumuskan.

Bagi Padang, langkah ini merupakan peluang untuk memperkenalkan gastronomi Minangkabau sebagai sistem budaya yang utuh. Bagi masyarakat, pengembangannya diharapkan membuka ruang bagi penciptaan nilai ekonomi dan sosial tanpa kehilangan akar tradisi.

Pada akhirnya, perjalanan menuju UNESCO bukan hanya tentang memperoleh pengakuan internasional. Lebih dari itu, tantangannya adalah memastikan bahwa kekayaan gastronomi Minangkabau tetap hidup, berkembang, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta keberlanjutan Kota Padang.(Humas)

Berita Terbaru UWG