UWG Malang Dorong Kota Kreatif Media Arts Tak Sekadar Prestise, Tapi Berdampak Nyata bagi Talenta dan Masyarakat

by | Oct 7, 2026 | Berita, FEB | 0 comments

Teknologi, Riset, Branding Talenta, dan Tridharma Perguruan Tinggi Jadi Kunci Penguatan Malang City of Media Arts UCCN

MALANG — Universitas Widyagama Malang (UWG) menegaskan komitmennya untuk mengambil peran strategis dalam pengembangan Kota Malang sebagai Kota Kreatif Media Arts UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Kampus mendorong agar predikat tersebut tidak berhenti sebagai pengakuan internasional, tetapi diwujudkan melalui inovasi teknologi, riset, penguatan talenta, branding pelaku kreatif, serta dampak nyata bagi masyarakat.

Komitmen itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Kota Malang sebagai Kota Kreatif Media Arts UCCN, yang digelar Pemerintah Kota Malang pada Selasa, 6 Oktober 2026, di Ruang Sekretariat Focal Point Kota Malang, Malang Creative Center (MCC) Lantai 2. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, sekolah kejuruan, komunitas, dan pemangku kepentingan ekonomi kreatif.

FGD menjadi bagian dari langkah lanjutan setelah Kota Malang memperoleh pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Media Arts. Fokus pengembangan diarahkan pada lima bidang utama, yakni tata kelola UCCN dan sekretariat, penguatan ekosistem Media Arts, penyelenggaraan event, penguatan talenta, serta riset dan pengembangan.

Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kota Malang, Yogi Handoyo Waseso, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa setelah pengukuhan Kota Malang sebagai kota kreatif bidang Media Arts, pekerjaan berikutnya adalah memastikan implementasinya berjalan melalui kajian penyusunan rencana aksi.

Rencana aksi tersebut diperlukan agar status Kota Kreatif Media Arts tidak berhenti pada pengakuan formal. Sebaliknya, status itu harus diterjemahkan menjadi program, kolaborasi, target, indikator, dan bentuk intervensi yang dapat diukur.

Di titik inilah perguruan tinggi memiliki ruang kontribusi yang sangat besar.

Dekan FT UWG: Teknologi Harus Melahirkan Inovasi

Dekan Fakultas Teknik UWG, Dr. Ir. Candra Aditya, S.T., M.T., menegaskan bahwa pembangunan Malang sebagai City of Media Arts tidak dapat dipisahkan dari teknologi.

Menurutnya, teknologi tidak cukup hanya menjadi instrumen pendukung, tetapi harus menjadi bagian dari proses penciptaan inovasi yang menjawab kebutuhan kota dan masyarakat.

Karena itu, UWG dapat mengambil peran melalui pendidikan, penelitian, pengembangan teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat. Kontribusinya dapat berupa inovasi digital, riset terapan, pengembangan kompetensi mahasiswa, kolaborasi dengan komunitas kreatif, penguatan UMKM dan industri kreatif, hingga penciptaan solusi teknologi untuk ekosistem Media Arts Kota Malang.

Ekosistem tersebut mencakup berbagai bidang, antara lain gim, aplikasi, animasi, desain komunikasi visual, film dan videografi, periklanan, serta content creation. Perguruan tinggi dan SMK juga ditempatkan dalam agenda penguatan talenta melalui FGD, pemutakhiran data program dan talenta Media Arts, serta pengembangan basis data talent.

UWG Soroti: Jangan Hanya Mengukur Kota Kreatif dari Uang

Sementara itu, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UWG, Dr. Hanif Rani Iswari, S.E., M.M., mengingatkan bahwa keberhasilan kota kreatif tidak cukup diukur dari indikator ekonomi.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi keberhasilan ekosistem kreatif juga harus dilihat dari perkembangan talenta, inovasi, kolaborasi, kapasitas pelaku, keberlanjutan ekosistem, serta kekuatan identitas kreatif kota.

“Pengakuan sebagai kota kreatif perlu diikuti kemampuan untuk membuktikan bagaimana ekosistem itu tumbuh.”
— Dr. Hanif Rani Iswari, S.E., M.M.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan monitoring dampak program secara kualitatif maupun kuantitatif. Dengan demikian, keberhasilan Malang sebagai Kota Kreatif Media Arts tidak hanya dinilai dari pertumbuhan nilai ekonomi atau banyaknya event, tetapi juga dari perubahan pada manusia, komunitas, institusi, kapasitas inovasi, jejaring, dan daya saing pelaku kreatif.

Talenta Malang Jangan Hanya Jadi “Dapur Produksi”

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah fenomena white label dalam industri kreatif.

Malang memiliki basis talenta dan kapasitas produksi kreatif yang kuat, termasuk konektivitas dengan industri internasional. Namun, kekuatan produksi tersebut belum selalu diikuti dengan penguatan identitas, kepemilikan nilai, dan branding para kreator lokal.

Karena itu, pengembangan talenta harus bergerak lebih jauh. Tidak cukup hanya meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga memperkuat ownership dan recognition.

Talent development perlu terhubung dengan teknologi, kewirausahaan, intellectual property, branding, akses pasar, dan sustainability. Tujuannya agar pelaku kreatif lokal tidak hanya menjadi “dapur produksi”, tetapi memiliki posisi, identitas, dan nilai tambah yang kuat atas karya mereka.

UWG Perkuat Peran sebagai Knowledge Partner dan Innovation Partner

Keterlibatan UWG dalam FGD tersebut mempertegas posisi perguruan tinggi sebagai knowledge partner sekaligus innovation partner bagi pemerintah, industri, dan komunitas kreatif.

Kontribusi kampus dapat diwujudkan melalui penelitian kota kreatif, pengembangan teknologi, pembentukan talenta baru, pendampingan industri kreatif, penguatan kewirausahaan, kajian indikator dampak, hingga pengembangan model bisnis dan strategi branding.

Bagi UWG, keterlibatan tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata implementasi tridharma perguruan tinggi yang terkoneksi langsung dengan agenda pembangunan daerah.

Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, industri, dan pelaku kreatif diharapkan mampu membawa Malang memasuki fase baru: bukan sekadar diakui sebagai City of Media Arts, tetapi mampu membuktikan dampaknya melalui inovasi, keberlanjutan talenta, penguatan identitas pelaku kreatif, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Dari Predikat Internasional Menuju Dampak Lokal

Keterlibatan UWG menunjukkan bahwa perjalanan Malang sebagai City of Media Arts UCCN kini memasuki fase yang lebih menantang: membuktikan bahwa pengakuan internasional dapat diterjemahkan menjadi ekosistem kreatif yang hidup, produktif, berkelanjutan, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Dengan teknologi sebagai penggerak inovasi, riset sebagai basis pengambilan keputusan, talenta sebagai kekuatan utama, dan branding sebagai penguat identitas, Malang memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi kota yang diakui dunia, tetapi juga menjadi kota yang mampu menghidupkan masa depan ekonomi kreatifnya sendiri.

UWG pun menegaskan kesiapannya menjadi bagian dari perjalanan tersebut—menghubungkan kampus, teknologi, talenta, dan inovasi untuk menjadikan Malang benar-benar tumbuh sebagai kota Media Arts yang berdampak.(Humas)

Berita Terbaru UWG