Pangan Lokal Naik Kelas! Prof. Moh. Su’i Dorong Warga Malang Sulap Ubi, Talas hingga Labu Menjadi Makanan Bergizi

by | Sep 7, 2026 | Berita, FP | 0 comments

MALANG — Pangan lokal selama ini kerap dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai “makanan kelas dua”. Namun, anggapan tersebut perlahan mulai berubah. Di tangan masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengolahnya, ubi jalar, talas, labu kuning, jagung, singkong, pisang hingga sukun justru dapat menjadi sumber pangan bergizi sekaligus produk makanan yang menarik dan bernilai ekonomi.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Pangan Olahan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Menunjang Gizi Keluarga Tahun 2026 Gelombang ke-2, yang menghadirkan Prof. Dr. Ir. Moh. Su’i, MP., dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Widya Gama (UWG) Malang, sebagai salah satu narasumber.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang tersebut berlangsung selama tiga hari, 19–21 Agustus 2026, bertempat di Hotel Atria Malang. Pelatihan diikuti sekitar 360 peserta yang merupakan perwakilan masyarakat dari Kelurahan Polehan dan Purwantoro, Kota Malang.

Pangan Lokal Bukan Sekadar Pengganti Beras

Dalam penyampaian materinya, Prof. Moh. Su’i memberikan pemahaman kepada peserta mengenai kandungan gizi sekaligus manfaat berbagai komoditas pangan lokal yang mudah dijumpai di lingkungan masyarakat.

Beberapa bahan yang dibahas antara lain ubi jalar, talas, labu kuning, jagung, singkong, pisang dan sukun.

Menurutnya, pangan lokal memiliki kandungan gizi yang tinggi dan beragam sehingga dapat menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.

Pemanfaatan pangan lokal juga menjadi semakin strategis karena bahan-bahan tersebut relatif mudah ditemukan dan dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis makanan. Dengan pengolahan yang tepat, pangan lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Dari Labu Jadi Roti, Ubi Jalar Disulap Menjadi Mie

Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Peserta juga mendapatkan pengalaman langsung melalui praktik pengolahan pangan lokal menjadi produk makanan yang lebih modern dan menarik.

Materi praktik pengolahan produk dari talas dan ketela ungu disampaikan oleh Ibu Canggi Fully Solidaritas, Founder/Pendiri PT CANGGI FULLY GROUP.

Peserta juga diajak mempraktikkan pengolahan labu kuning menjadi roti serta ubi jalar menjadi mie.

Kegiatan praktik tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta. Mereka dapat melihat secara langsung bahwa bahan pangan yang selama ini mungkin hanya diolah secara sederhana ternyata dapat dikembangkan menjadi makanan dengan bentuk, cita rasa dan tampilan yang jauh lebih menarik.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru mengenai gizi, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis yang dapat diterapkan di rumah maupun dikembangkan menjadi peluang usaha.

Mengubah Cara Pandang Masyarakat terhadap Pangan Lokal

Pelatihan tersebut sekaligus membuka perspektif baru bagi masyarakat. Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap pangan berbasis ubi, singkong, talas atau bahan lokal lainnya sebagai makanan alternatif ketika tidak tersedia beras atau terigu.

Melalui pelatihan, peserta justru menemukan bahwa pangan lokal tidak kalah dengan beras dan terigu, terutama apabila diolah dengan teknik yang tepat.

Bahkan, bahan pangan lokal dapat dikreasikan menjadi makanan kekinian yang menarik, lezat dan memiliki nilai tambah.

Perubahan cara pandang inilah yang menjadi salah satu pesan penting dari kegiatan tersebut. Pangan lokal tidak semestinya ditempatkan sebagai pilihan kedua, melainkan dapat menjadi kekuatan pangan keluarga sekaligus potensi ekonomi masyarakat.

UWG Perkuat Peran Perguruan Tinggi di Tengah Masyarakat

Keterlibatan Prof. Moh. Su’i sebagai narasumber juga menunjukkan kontribusi akademisi Universitas Widya Gama Malang dalam memberikan solusi berbasis keilmuan bagi persoalan pangan dan gizi masyarakat.

Ilmu Teknologi Hasil Pertanian tidak hanya berhenti di ruang kelas dan laboratorium, tetapi dapat diterapkan langsung untuk membantu masyarakat memahami potensi bahan pangan di sekitarnya.

Melalui transfer pengetahuan tersebut, masyarakat diharapkan semakin mampu memanfaatkan sumber daya pangan lokal secara optimal, mulai dari aspek gizi, diversifikasi pangan, pengolahan hingga peluang pengembangan produk.

Pelatihan ini pada akhirnya bukan sekadar mengajarkan cara membuat makanan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengubah paradigma masyarakat: dari memandang pangan lokal sebagai makanan kelas dua menjadi melihatnya sebagai sumber pangan bergizi, kreatif, sehat dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Pangan lokal ada di sekitar kita. Tantangannya bukan lagi mencari bahan, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi pangan yang bergizi, menarik, lezat dan bernilai.(humas)

Berita Terbaru UWG