SARASEHAN PENDIDIKAN YPPI WIDYA GAMA MALANG: DARI KEINDONESIAAN, KEISLAMAN HINGGA KEWIRAUSAHAAN, MENEGUHKAN ARAH PENDIDIKAN DI ERA AI

by | Aug 18, 2026 | Berita | 0 comments

MALANG — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Yayasan Pembina Pendidikan Indonesia Widya Gama Malang (YPPIWM) tampil berbeda. Bukan sekadar upacara bendera, keluarga besar YPPI Widya Gama Malang memilih merayakan kemerdekaan melalui Sarasehan Pendidikan dan Tasyakuran, yang digelar di Hall Widya Graha Kampus 2 Universitas Widya Gama Malang (UWG), Selasa, 18 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut menjadi forum refleksi sekaligus ruang terbuka untuk memperbincangkan masa depan pendidikan, tantangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), penguatan karakter, Pancasila, keislaman, kewirausahaan hingga kontribusi lembaga pendidikan bagi bangsa dan negara.

Mengusung semangat “Keindonesiaan, Keislaman dan Kewirausahaan”, sarasehan mempertemukan seluruh unsur lembaga di bawah YPPI Widya Gama Malang, mulai dari UWG Malang, STIKES Widya Gama Husada (WGH) Malang, SMA Widya Gama Malang hingga SMK Widya Gama Malang.

Rektor UWG Malang, Dr. Anwar, SH., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur karena seluruh undangan dapat hadir memenuhi Hall Widya Graha Kampus 2 UWG.

“Alhamdulillah acara berlangsung lancar dan khidmat. Seluruh undangan hadir memenuhi Hall Widya Graha Kampus 2 UWG Malang,” ungkapnya.

Menurutnya, peringatan HUT RI tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk upacara. Sarasehan dan tasyakuran justru menjadi momentum bermakna untuk mempertemukan seluruh elemen di bawah naungan YPPI Widya Gama Malang.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung UWG sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

KETUA YPPI: PENDIDIKAN HARUS MENANGKAP PERUBAHAN ZAMAN

Gagasan utama sarasehan disampaikan Ketua YPPI Widya Gama Malang, Prof. H.A. Mukthie Fadjar, SH., MS., melalui tayangan video yang disimak dan kemudian ditanggapi para pimpinan lembaga.

Prof. Mukthie mengajak seluruh keluarga besar YPPI Widya Gama Malang menjadikan HUT ke-81 RI sebagai momentum untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dan arah pendidikan.

Menurutnya, perubahan format dari upacara bendera menjadi sarasehan dan tasyakuran dilakukan agar peringatan kemerdekaan lebih mampu menangkap makna yang sesuai dengan karakter YPPI sebagai lembaga pendidikan.

Salah satu penekanan pentingnya adalah pendidikan harus mampu menangkap perkembangan bangsa dan perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

“Kecerdasan bukan hanya sekadar pintar, tetapi mampu menangkap perkembangan bangsa,” demikian gagasan yang disampaikan dalam sarasehan tersebut.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan merupakan amanat konstitusi dan menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Karena itu, seluruh insan pendidikan di lingkungan YPPI Widya Gama Malang dituntut terus melakukan refleksi: apakah proses pendidikan yang selama ini dilaksanakan sudah berada di jalur yang sesuai dengan falsafah dasar yayasan dan nilai-nilai Pancasila.

Menurut Prof. Mukthie, Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak boleh dipisahkan dari penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan harus berbasis pada penelitian empiris dan menghasilkan pengetahuan yang dapat diaplikasikan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

TIGA FONDASI BESAR WIDYA GAMA

Dalam paparannya, Ketua YPPI Widya Gama Malang menegaskan tiga fondasi yang menjadi filosofi pendidikan Widya Gama, yakni Keindonesiaan, Keislaman dan Kewirausahaan.

Nilai keindonesiaan diwujudkan melalui penghayatan dan pengamalan Pancasila. Nilai keislaman diarahkan pada ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, sedangkan kewirausahaan menjadi komitmen untuk ikut memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya sektor UMKM.

Ia menekankan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus benar-benar dihayati dan diterapkan dalam kehidupan pendidikan.

Para dosen, guru besar, mahasiswa, guru dan siswa di seluruh lembaga YPPI Widya Gama Malang diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari perilaku dan proses pembelajaran.

Dalam konteks kewirausahaan, YPPI juga memandang UMKM sebagai bagian penting dari perekonomian nasional yang harus terus mendapatkan perhatian dan dikembangkan.

Prof. Mukthie juga menyampaikan kritik terhadap masih maraknya persoalan korupsi serta mengingatkan agar pengelolaan anggaran pendidikan benar-benar diarahkan untuk kepentingan pendidikan dan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi maupun golongan.

UWG: BUKAN HANYA MENCETAK ORANG PINTAR, TETAPI MANUSIA BERKARAKTER

Menanggapi gagasan Ketua YPPI, Rektor UWG Malang, Dr. Anwar, menegaskan bahwa semangat Keindonesiaan, Keislaman dan Kewirausahaan sejalan dengan arah pengembangan UWG.

Visi UWG Malang adalah menjadi universitas yang mandiri, bermutu, bermartabat, berdaya saing nasional, dan berwawasan global.

Menurut Dr. Anwar, nilai rahmatan lil ‘alamin diterapkan secara inklusif. Mahasiswa nonmuslim tidak diwajibkan mengikuti mata kuliah agama Islam, tetapi mendapatkan pembelajaran agama sesuai keyakinan masing-masing yang diakui dalam sistem akademik.

Lebih jauh, UWG menekankan pembentukan karakter dan integritas mahasiswa.

“Kita bukan hanya sekadar mencetak orang pintar, tetapi mencetak orang yang berkarakter dan berintegritas,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh dosen dan karyawan menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah sehingga setiap aktivitas yang dilakukan memberikan manfaat dan memiliki makna.

Menurutnya, seluruh elemen kampus memiliki peran penting sesuai posisi masing-masing untuk melahirkan generasi yang hebat, berkarakter, berintegritas dan mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

STIKES WGH, SMA DAN SMK PERKUAT TIGA FILOSOFI

Direktur STIKES WGH Malang menyampaikan komitmen lembaganya untuk mengimplementasikan tiga filosofi YPPI. STIKES WGH diarahkan untuk mencetak lulusan bidang kesehatan yang kreatif, inovatif sekaligus memiliki kemampuan kewirausahaan.

Sementara Kepala SMA Widya Gama Malang menjelaskan bahwa nilai keindonesiaan ditanamkan melalui kebiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pagi. Nilai keislaman diwujudkan melalui doa bersama, sedangkan kewirausahaan dikembangkan melalui karya inovatif dan kegiatan kokurikuler siswa.

Bahkan, siswa SMA Widya Gama Malang telah mencatat prestasi nasional di bidang kewirausahaan.

Kepala SMK Widya Gama Malang juga menyampaikan bahwa sekolah terus mengembangkan karakter peserta didik yang nasionalis, religius dan inovatif.

Setiap hari siswa menyanyikan Indonesia Raya, sementara nilai keislaman diperkuat melalui kegiatan khotmil Qur’an. Di bidang kewirausahaan, siswa mendapatkan pembelajaran usaha dan terus dipersiapkan menghadapi perubahan dunia kerja yang sangat cepat.

ALUMNI MINTA UWG BERGERAK SECEPAT PERUBAHAN ZAMAN

Forum sarasehan semakin hidup ketika Ketua IKAWIGA, H. Supriyadi, ST., MT., menyampaikan pandangan dari perspektif alumni dan dunia usaha.

Menurutnya, perubahan generasi membuat calon mahasiswa saat ini tidak lagi hanya mempertimbangkan nama besar perguruan tinggi. Kampus harus mampu menunjukkan relevansi, kualitas layanan dan prospek masa depan lulusannya.

“Apakah kita sudah berubah secepat perubahan zaman?” menjadi salah satu pertanyaan reflektif yang mengemuka.

Ia menegaskan bahwa alumni bukan sekadar bagian dari masa lalu kampus. Alumni merupakan cermin kualitas perguruan tinggi sekaligus dapat menjadi jembatan antara kampus dan dunia kerja.

IKAWIGA, katanya, memiliki jaringan alumni yang dapat disinergikan dengan kampus untuk membuka peluang pengembangan mahasiswa, kerja sama dunia usaha serta penguatan almamater.

Ia bahkan mendorong adanya visi jangka panjang untuk membuka Fakultas Kedokteran UWG Malang.

MAHASISWA: JANGAN TAKUT JUMLAH MAHASISWA TURUN, TAKUTLAH PADA KUALITAS LULUSAN

Suara kritis juga datang dari mahasiswa melalui Presiden Mahasiswa UWG Malang.

Ia mengingatkan agar kritik terhadap kampus dipandang sebagai bagian dari upaya memajukan lembaga. Menurutnya, pendidikan yang layak harus terus diperjuangkan karena masih terdapat berbagai ketimpangan yang perlu diperbaiki.

Persoalan ketepatan sasaran beasiswa KIP juga menjadi perhatian. Mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan diharapkan mendapatkan perhatian sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku.

Pesan yang paling kuat adalah agar sivitas akademika tidak hanya takut terhadap penurunan jumlah mahasiswa, tetapi lebih takut apabila kualitas lulusan menurun.

“Jangan takut kuota mahasiswa turun, tetapi takut dengan kualitas lulusan.”

Menurutnya, kualitas UWG telah tercermin dari sejumlah alumni yang mampu meraih keberhasilan di tingkat nasional dan harus terus menjadi motivasi untuk meningkatkan mutu.

DEWAN PEMBINA: WIDYA GAMA HARUS TERUS NAIK KELAS

Ketua Dewan Pembina YPPIWM, Prof. Dr. Muryati, SE., MM., yang disebut sebagai salah satu tokoh senior dengan usia 81 tahun, turut memberikan pandangan dalam sarasehan.

Ia menegaskan luasnya jejaring mahasiswa UWG yang datang dari berbagai wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Dalam kesempatan tersebut bahkan hadir mahasiswa asal Merauke yang diundangnya untuk mengikuti acara.

Ia berharap UWG Malang mampu meraih akreditasi unggul dan ke depan bergerak menuju akreditasi internasional.

STIKES WGH juga diharapkan semakin maju dan berkembang, sementara SMA dan SMK Widya Gama Malang perlu dikelola secara optimal agar menjadi sumber input yang kuat bagi pengembangan UWG.

KOLABORASI EMPAT LEMBAGA JADI KUNCI

Dalam forum tersebut juga mengemuka harapan agar empat lembaga di bawah YPPI Widya Gama Malang semakin intensif berkolaborasi.

Perwakilan STIKES WGH berharap kerja sama dengan UWG diperkuat, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Intensitas pertemuan antar-dosen, karyawan dan guru juga dinilai perlu ditingkatkan agar tercipta kolaborasi yang lebih kuat karena berada dalam satu naungan yayasan.

Dari SMA Widya Gama Malang juga muncul gagasan penguatan sinergi dengan UWG, termasuk melalui program dosen mengajar di SMA serta penguatan jalur pendidikan lanjutan bagi lulusan SMA menuju perguruan tinggi.

PENGABDIAN 10, 20 DAN 30 TAHUN DIBERI PENGHARGAAN

Sarasehan kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada dosen, karyawan, guru dan staf di lingkungan YPPI Widya Gama Malang yang telah menunjukkan dedikasi pengabdian selama 10 tahun, 20 tahun hingga 30 tahun.

Pemberian penghargaan menjadi simbol penghormatan terhadap mereka yang telah mengabdikan tenaga, pikiran dan waktu untuk membangun lembaga pendidikan Widya Gama.

Momen tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemajuan lembaga pendidikan tidak hanya dibangun oleh kebijakan dan fasilitas, tetapi juga oleh loyalitas dan pengabdian panjang sumber daya manusia di dalamnya.

MERAH PUTIH, SIMBOL KEBERANIAN DAN KESUCIAN

Dalam refleksi HUT ke-81 RI, merah putih juga dimaknai sebagai simbol keberanian dan kesucian.

Merah dimaknai sebagai keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan memberantas berbagai persoalan bangsa, sedangkan putih menjadi simbol kesucian hati.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan dunia pendidikan yang dituntut tidak hanya menghasilkan manusia berilmu, tetapi juga manusia yang memiliki integritas moral.

TASYAKURAN MENJADI PENUTUP PENUH MAKNA

Seluruh rangkaian kegiatan dipandu M. Ramadhana Alfaris, M.Si., M.H., Kepala Humas UWG Malang.

Ia menegaskan bahwa sarasehan menjadi momentum untuk meneguhkan kembali gagasan Ketua YPPI Widya Gama Malang sekaligus membuka ruang dialog antarlembaga.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng dan ramah tamah seluruh peserta.

Suasana kebersamaan terlihat kuat ketika pimpinan yayasan, pimpinan lembaga, dosen, karyawan, guru, siswa, mahasiswa, alumni dan seluruh keluarga besar YPPI Widya Gama Malang berkumpul dalam satu forum.

Peringatan HUT ke-81 RI akhirnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi berubah menjadi momentum refleksi besar tentang masa depan pendidikan.

Dari Hall Widya Graha Kampus 2 UWG Malang, satu pesan besar diteguhkan: pendidikan Widya Gama harus terus bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati diri.

Keindonesiaan sebagai pijakan kebangsaan, keislaman sebagai nilai moral dan rahmatan lil ‘alamin, serta kewirausahaan sebagai kekuatan kemandirian ekonomi menjadi tiga filosofi yang diharapkan mampu mengantarkan seluruh lembaga YPPI Widya Gama Malang semakin maju, bermartabat dan berkontribusi bagi bangsa.

Dari Malang untuk Indonesia: Widya Gama terus meneguhkan pendidikan yang berilmu, berkarakter, berintegritas dan berkeadaban.(HUMAS)

Berita Terbaru UWG