Dilirik Menteri Ekonomi Kreatif di TEI 2026, PIGELA CHIPS Buktikan Riset Kampus Bisa Tembus Pasar Global

by | Oct 14, 2026 | Berita, FEB | 0 comments

Hasil hilirisasi riset konsorsium Universitas Brawijaya yang melibatkan peneliti Universitas Widya Gama Malang ini mengantarkan produk olahan pisang kepok asal Bojonegoro ke panggung perdagangan internasional.

TANGERANG, 14 Oktober 2026 — Produk lokal tak sekadar menjadi komoditas, tetapi berpeluang menjadi kekuatan baru ekonomi kreatif Indonesia. PIGELA CHIPS, camilan berbahan dasar pisang kepok yang dikembangkan oleh CV Haza Food Indonesia di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendapat apresiasi langsung dari Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (14/10/2026).

Momentum ini menjadi sorotan bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi lokal. Di balik kehadiran PIGELA CHIPS dalam pameran perdagangan internasional tersebut, terdapat kolaborasi penelitian lintas perguruan tinggi melalui Program Hiliriset Konsorsium yang dipimpin Universitas Brawijaya (UB) dan melibatkan Universitas Widya Gama Malang (UWG).

Apresiasi Menteri Ekonomi Kreatif menjadi penyemangat bagi tim peneliti dan pelaku usaha untuk terus mengembangkan produk lokal agar memiliki nilai tambah, memperkuat daya saing, serta membuka peluang menjangkau pasar yang lebih luas.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hanif Rani Iswari, S.E., M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UWG Malang yang tergabung dalam tim peneliti konsorsium, turut memperkenalkan latar belakang pengembangan PIGELA CHIPS melalui kegiatan penelitian dan hilirisasi.

Produk tersebut juga memperoleh kesempatan mengikuti program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Keikutsertaan dalam TEI 2026 menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli internasional, menjajaki peluang kerja sama perdagangan, dan memperoleh masukan mengenai kebutuhan pasar global.

Kolaborasi Riset UB–UWG: Mempertemukan Teknologi Pangan dan Strategi Bisnis

PIGELA CHIPS menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi akademik dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan nyata dunia usaha. Program Hiliriset Konsorsium ini dipimpin oleh Dr. Ir. Anang Lastriyanto, M.Si., akademisi Universitas Brawijaya yang memiliki kepakaran dalam teknologi bioproses, teknologi pascapanen, dan pengolahan pangan.

Pengalaman penelitiannya dalam pengembangan teknologi pengolahan hasil pertanian serta penerapan teknologi tepat guna menjadi salah satu fondasi keilmuan bagi pengembangan produk berbasis komoditas lokal.

Sementara itu, keterlibatan Dr. Hanif Rani Iswari dari FEB UWG memperkuat aspek manajemen dan pengembangan bisnis. Perspektif ini penting karena keberhasilan hilirisasi riset tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan inovasi produk, tetapi juga mencakup penguatan model usaha, penciptaan nilai tambah, strategi pemasaran, dan perluasan akses pasar.

Sinergi antara kompetensi teknologi dan manajemen tersebut menghadirkan pendekatan multidisiplin dalam mendukung pengembangan UMKM. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan akademik, melainkan dapat diterapkan untuk menjawab tantangan usaha dan meningkatkan kesiapan produk menghadapi persaingan.

Kolaborasi UB dan UWG sekaligus memperlihatkan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dalam memperluas manfaat penelitian bagi masyarakat dan sektor produktif.

Dari Pisang Kepok Bojonegoro Menuju Panggung Perdagangan Internasional

Berbahan dasar pisang kepok, PIGELA CHIPS membawa potensi komoditas lokal Bojonegoro ke ruang promosi perdagangan internasional. Produk yang dikembangkan CV Haza Food Indonesia ini menunjukkan peluang pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah melalui penguatan inovasi dan pengembangan usaha.

Bagi UMKM, memasuki pameran perdagangan internasional bukan sekadar kesempatan memamerkan produk. Momentum tersebut juga menjadi sarana untuk mengenali karakteristik calon konsumen, memahami kebutuhan calon pembeli, membangun jejaring bisnis, serta mengukur kesiapan usaha menghadapi persaingan pasar.

Melalui dukungan pengembangan berbasis riset, PIGELA CHIPS diarahkan untuk memperkuat fondasi usahanya agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Namun, peluang memasuki pasar internasional juga menuntut kesiapan yang lebih menyeluruh. Konsistensi mutu produk, kapasitas produksi, pengemasan, pemenuhan persyaratan pasar tujuan, dan keberlanjutan pasokan menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha.

Karena itu, partisipasi PIGELA CHIPS di TEI 2026 bukan sekadar pencapaian promosi, melainkan bagian dari proses pembelajaran untuk memperkuat kesiapan bisnis dan memperluas peluang perdagangan.

Apresiasi Menteri Jadi Momentum Penguatan Hilirisasi Riset

Kunjungan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ke stan yang menampilkan PIGELA CHIPS menjadi salah satu momen penting dalam partisipasi produk tersebut di TEI 2026.

Dalam pertemuan itu, Menteri menerima pengenalan produk dan penjelasan mengenai proses pengembangannya. Dr. Hanif turut menyampaikan bahwa pengembangan PIGELA CHIPS melibatkan dukungan kegiatan penelitian dan hilirisasi melalui konsorsium perguruan tinggi.

Bagi tim peneliti, momentum tersebut menegaskan pentingnya membangun hubungan yang lebih erat antara dunia akademik, pelaku usaha, dan ekosistem ekonomi kreatif.

Dr. Hanif menilai, riset perguruan tinggi perlu memiliki jalur penerapan yang jelas agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan dunia usaha.

“Riset perguruan tinggi harus memiliki jalur hilirisasi yang jelas. Ketika hasil penelitian dapat membantu UMKM memperkuat produknya, meningkatkan kesiapan bisnis, dan memperoleh akses ke pasar internasional, maka manfaat penelitian menjadi semakin nyata. Apresiasi Menteri Ekonomi Kreatif terhadap PIGELA CHIPS menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan riset yang berdampak,” ungkapnya.

Apresiasi tersebut menjadi dorongan untuk melanjutkan pengembangan produk sekaligus memperkuat ekosistem kolaborasi yang menghubungkan inovasi, kapasitas usaha, dan peluang pasar.

Meski demikian, keberhasilan memperkenalkan produk dalam pameran internasional merupakan salah satu tahapan dalam perjalanan hilirisasi. Keberlanjutan usaha tetap membutuhkan penguatan kapasitas produksi, konsistensi kualitas, strategi pemasaran, dan kemampuan memenuhi kebutuhan calon pembeli.

Kontribusi Peneliti UWG Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif

Keterlibatan Dr. Hanif Rani Iswari dalam konsorsium yang dipimpin Universitas Brawijaya mencerminkan kontribusi Universitas Widya Gama Malang dalam pengembangan penelitian kolaboratif yang berorientasi pada pemanfaatan hasil riset.

Selain menjalankan tugas akademik di UWG, Dr. Hanif juga mengemban amanah sebagai Direktur Riset dan Knowledge Indonesian Creative Cities Network (ICCN). Peran tersebut menjadi bagian dari keterlibatannya dalam jejaring yang menghubungkan pengetahuan, pelaku ekonomi kreatif, dan pengembangan potensi daerah.

Pengalaman pengembangan PIGELA CHIPS memperlihatkan bahwa penguatan UMKM membutuhkan kontribusi berbagai bidang keilmuan. Teknologi pengolahan pangan dapat mendukung pengembangan produk, sedangkan manajemen bisnis berperan dalam memperkuat strategi usaha dan mempersiapkan produk menghadapi pasar yang kompetitif.

Bagi UWG, keterlibatan dosen dalam konsorsium lintas perguruan tinggi juga menjadi wujud perluasan manfaat tridarma perguruan tinggi melalui penelitian, penerapan hasil inovasi, dan kerja sama antarinstitusi.

Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset berikutnya yang semakin responsif terhadap kebutuhan UMKM dan potensi ekonomi daerah.

Hilirisasi Riset, Jalan Baru Mengangkat Produk Lokal Indonesia

Perjalanan PIGELA CHIPS dari Bojonegoro hingga mendapat apresiasi Menteri Ekonomi Kreatif di Trade Expo Indonesia 2026 memberikan gambaran mengenai peluang yang dapat dibuka melalui kolaborasi penelitian dan pengembangan usaha.

Potensi komoditas lokal dapat diperkuat melalui inovasi pengolahan, dukungan pengetahuan akademik, serta strategi bisnis yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketika berbagai unsur tersebut terhubung, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan produk dan memperluas jangkauan pemasarannya.

Bagi konsorsium UB–UWG, pengalaman PIGELA CHIPS menjadi pengingat bahwa keberhasilan penelitian tidak semata-mata diukur dari hasil akademik, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan dapat diterapkan untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata.

Apresiasi yang diterima di TEI 2026 menjadi momentum untuk melanjutkan upaya tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengembangan produk berjalan berkelanjutan, kesiapan usaha semakin kuat, dan peluang pasar yang terbuka dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama bisnis yang konkret.

Dari pisang kepok Bojonegoro, PIGELA CHIPS membawa pesan bahwa inovasi lokal memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh ketika riset perguruan tinggi, kreativitas pelaku usaha, dan strategi pengembangan bisnis berjalan beriringan.(Humas)

Berita Terbaru UWG