MoU Tak Sekadar Tanda Tangan! UWG Malang dan UNJ Wujudkan Kolaborasi Akademik

by | Oct 16, 2026 | Berita | 0 comments

JAKARTA, 16 Oktober 2026 – Di balik deretan angka, ternyata tersimpan nilai-nilai budaya, kejujuran, tanggung jawab, hingga kearifan lokal yang memiliki peran penting dalam membangun tata kelola organisasi yang berkelanjutan.

Perspektif menarik inilah yang dibawa Prof. Dr. Ana Sopanah, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., Wakil Rektor III Universitas Widya Gama Malang (UWG Malang), saat menjadi narasumber dalam kegiatan Guest Lecture atau Kuliah Tamu yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jumat (16/10/2026).

Mengangkat tema “Mewujudkan Sustainable Governance melalui Akuntansi Berbasis Kearifan Lokal”, kegiatan tersebut bukan sekadar forum berbagi pengetahuan, melainkan juga menjadi langkah konkret implementasi Memorandum of Understanding (MoU) antara UNJ dan UWG Malang dalam memperkuat kolaborasi akademik antarkedua perguruan tinggi.

Kuliah tamu yang berlangsung secara hybrid mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini berhasil menarik perhatian sekitar 270 peserta, terdiri atas 70 peserta yang hadir secara langsung dan 200 peserta yang mengikuti secara daring. Dipandu oleh Putri Maryani, S.Tr.Ak., M.Sc., CRBAP., sebagai moderator, kegiatan berlangsung interaktif dan membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara akuntansi, budaya, dan tata kelola berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Prof. Ana Sopanah mengajak peserta melihat akuntansi dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, akuntansi tidak semestinya hanya dipahami sebagai aktivitas mencatat transaksi atau menyusun laporan keuangan, tetapi juga sebagai instrumen yang mencerminkan nilai, etika, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan organisasi.

“Akuntansi bukan sekadar angka. Di balik angka terdapat nilai, budaya, tanggung jawab, dan kepentingan masyarakat,” menjadi pesan utama yang ditekankan dalam kuliah tamu tersebut.

Melalui pendekatan akuntansi berbasis kearifan lokal, Prof. Ana menjelaskan bahwa nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia, seperti gotong royong, musyawarah, kebersamaan, kejujuran, serta tanggung jawab sosial, dapat menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

Nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga memiliki relevansi dalam praktik pengelolaan organisasi modern. Semangat gotong royong, misalnya, mencerminkan pentingnya partisipasi dan tanggung jawab bersama, sementara musyawarah menjadi representasi pengambilan keputusan yang mempertimbangkan kepentingan berbagai pihak.

Perspektif tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemajuan ilmu akuntansi tidak harus meninggalkan akar budaya bangsa. Justru melalui integrasi kearifan lokal, praktik akuntansi dapat dikembangkan menjadi lebih kontekstual, beretika, dan mampu menjawab tantangan tata kelola organisasi di tengah perubahan zaman.

Dalam konteks sustainable governance, tata kelola yang baik tidak cukup hanya diukur dari kepatuhan terhadap regulasi atau keberhasilan mencapai target keuangan. Lebih dari itu, keberlanjutan organisasi membutuhkan integritas, transparansi, akuntabilitas, partisipasi, serta kepedulian terhadap aspek sosial dan budaya masyarakat.

Di sinilah akuntansi memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai penyedia informasi keuangan, tetapi juga sebagai instrumen untuk membangun kepercayaan, memperkuat pertanggungjawaban, dan mendukung pengambilan keputusan yang berorientasi pada keberlanjutan.

Menariknya, pembahasan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan, baik dari peserta yang hadir secara langsung maupun yang mengikuti secara daring. Berbagai pertanyaan dan pandangan mengemuka dalam sesi diskusi, terutama mengenai bagaimana nilai-nilai kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam praktik akuntansi modern tanpa mengabaikan prinsip profesionalisme dan akuntabilitas.

Diskusi yang berkembang memperlihatkan bahwa akuntansi berbasis kearifan lokal bukan sekadar gagasan konseptual, melainkan memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui penelitian, pendidikan, hingga penerapannya dalam tata kelola organisasi sektor publik maupun swasta.

Di balik diskusi akademik yang berlangsung, kegiatan ini juga memiliki arti penting bagi penguatan hubungan kelembagaan antara Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Widya Gama Malang. Kehadiran Prof. Ana Sopanah sebagai narasumber menjadi bukti bahwa kerja sama perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen MoU semata, tetapi harus diwujudkan melalui program akademik yang memberikan manfaat nyata.

Melalui forum tersebut, kedua perguruan tinggi tidak hanya memperluas pertukaran pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih besar dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan keilmuan yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan isu global.

Bagi UWG Malang, keterlibatan Prof. Ana Sopanah dalam forum akademik UNJ sekaligus menunjukkan kontribusi aktif pimpinan dan akademisi universitas dalam memperkuat jejaring keilmuan lintas perguruan tinggi. Kolaborasi semacam ini menjadi bagian penting dari upaya UWG Malang untuk terus meningkatkan kualitas akademik, memperluas kemitraan strategis, dan menghadirkan kontribusi yang berdampak bagi masyarakat.

Lebih jauh, kegiatan ini membawa pesan bahwa modernisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan tidak harus mengesampingkan identitas budaya bangsa. Sebaliknya, kearifan lokal dapat menjadi kekuatan untuk membangun tata kelola organisasi yang lebih manusiawi, berintegritas, dan berkelanjutan.

Implementasi MoU antara UNJ dan UWG Malang melalui kuliah tamu ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya berbagai program kolaboratif yang lebih luas dan berkesinambungan. Dengan menghubungkan kekuatan akademik antarlembaga, kedua perguruan tinggi memiliki peluang untuk bersama-sama menghasilkan inovasi keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan masa depan.

Dari ruang akademik di Jakarta, Prof. Ana Sopanah membawa pesan bahwa masa depan akuntansi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghitung angka secara tepat, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga nilai, membangun kepercayaan, dan menciptakan keberlanjutan.

Semangat inilah yang sejalan dengan komitmen UWG Malang untuk terus mengembangkan pendidikan tinggi yang unggul, beradab, dan berdampak, sekaligus membuktikan bahwa kolaborasi akademik yang kuat dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan kebutuhan masyarakat di masa depan.

Berita Terbaru UWG